5 Kesegaran dalam Film Hangout: Waktunya Raditya Dika Unjuk Gigi ke Mancanegara!

Dalam kurun waktu kurang dari dua minggu, film “Hangout” yang disutradai oleh komedian kelas atas Raditya Dika berhasil menembus 2 juta penonton. Jumlah yang fantastis ini telah memberikan sumbangsih prestasi dalam dunia perfilman Indonesia juga menimbulkan rasa penasaran bagi khalayak yang belum sempat menonton untuk akhirnya memutuskan menonton film tersebut.

Banyak orang mengaku telah menonton film ini lebih dari satu kali kepada Radit di akun Twitternya. Lalu,

”Apa sih yang bikin film ini (kata orang) wajib banget ditonton?”

Akhirnya, pertanyaan itu terjawab bahkan saat film baru 10 menit diputar. Banyak hal yang segar dan menarik yang disuguhkan Radit dalam film ini diantaranya sebagai berikut:

1. Thriller dengan balutan komedi

Raditya Dika, seperti kita ketahui adalah penulis dan sutradara yang identik dengan konsep percintaan, galau, baper, dan susah move-on. Hampir semua karya (novel dan film) terdahulunya bergenre romance comedy.  Namun, dalam film ini ia mencoba ke luar dari zona nyamannya dan berhijrah ke lahan thriller dengan dibalut unsur komedi yang tetap kental. Berdasarkan video yang diunggahnya di Youtube tiga bulan lalu, Radit mengaku bahwa ini merupakan film pertamanya yang bergenre agak serius. Baginya, ini merupakan sebuah eksperimen dengan memadukan thriller dan unsur komedi. Ini menjadi sesuatu yang baru dan segar dalam suguhan perfilman Indonesia kekinian.

2. It successfully boom the laughs out!

Eksperimen Radit dapat dikatakan berhasil. Sepanjang film ini diputar, tawa penonton tak hentinya membising di ruangan teater. Radit telah membuktikan bahwa thriller tidak melulu harus dibawa serius. Dalam film ini, tawa penonton tetap menggelak bahkan ketika adegan berdarah-darah. Adegan pembunuhan tetap dibungkus dengan unsur humoris. Konsep mengerikan dan kengiluan yang menjadi jantung film bergenre thriller, telah dipatahkan oleh Radit dengan tidak menghilangkan aroma thriller itu sendiri. Bumbu komedi dalam film ini menempati takaran yang pas.

3. Sembilan tokoh dengan karakteristik berbeda

Banyak tokoh yang dihadirkan Radit dalam membangun alur cerita, termasuk dirinya. Hal yang berbeda dari kebanyakan film lainnya adalah semua tokoh dalam film ini diperankan dengan nama asli sang aktor, yakni Mathias Mucus, Surya Saputra, Soleh Solihun, Prilly Latuconsina, Titi kamal, Dinda Kaya Dewi, Gading Marten, dan Bayu Skak. Masing-masing dari mereka sekaligus mewakili masanya sebagai publik figur, Mathias dan Surya sebagai aktor senior; Titi, Dinda, Gading, Soleh, dan Radit sebagai aktor muda dengan jam terbang yang sudah cukup banyak; serta Prilly dan Bayu Skak yang masih tergolong pendatang baru.

Mereka memainkan karakter-karakter yang berbeda. Yang agak unik adalah karakter psikopat yang diperankan oleh Surya, karakter super jorok yang diperankan oleh Dinda, serta karakter tomboy dan sederhana yang diperankan oleh Titi. Ketiga aktor tersebut memainkan peran yang agak berbeda dengan karakter yang biasa dinilai publik melekat pada sosok dirinya. Sementara, tokoh yang lain condong dengan pembawaan karakter asli sang aktor, seperti Soleh Solihun dengan gaya komika nya, Bayu Skak dengan aktivitas nge-vlog nya, dan Raditya Dika yang tetap menjaga ekspresi datarnya dari film ke- film.

Peran yang dimainkan para aktor dalam film ini semakin terlihat natural dengan menghadirkan posisi pekerjaan tokoh sesuai dengan fakta di kehidupan nyata sang aktor. Seperti pada beberapa bagian adegan menyebutkan Gading sebagai MC Inbox, Titi Kamal sebagai pemeran Maura dalam AADC 2, juga Prilly sebagai aktor dalam sinetron Ganteng Ganteng Serigala, bahkan nama Aliando pun sempat sekilas disebutkan dalam adegan.

Rekaan cerita seperti ini membawa penonton berada di perbatasan antara fiksi dan non-fiksi. Menarik!

4. Banyak pesan tersirat yang disampaikan cerita

Tidak seperti pada film-film Radit sebelumnya yang kebanyakan memberikan pesan berupa petuah moveon dan perihal hubungan percintaan lainnya. Dalam film “Hangout”, pesan atau amanat tidak menyentuh sedikit pun persoalan asmara tetapi lebih kepada hubungan sosial untuk saling peduli dan menghargai satu sama lain. Bahkan, pesan dengan bentuk kritik terhadap kondisi pertelevisian kekinian, pencitraan, dan gaya hidup modern pun cukup dominan dimunculkan, namun tidak secara verbal disampaikan oleh para tokoh.

5. Ending cerita yang tak terduga

Mengambil genre thriller dengan latar di suatu pulau kecil, film ini menceritakan pembunuhan berantai tanpa diketahui siapa pembunuhnya. Hal ini menciptakan ruang kebebasan bagi penonton untuk menebak siapakah sosok pembunuh yang sebenarnya seiring dengan berjalannya cerita. Namun, di akhir cerita terungkaplah sang pembunuh tersebut yang sebelumnya tidak terduga. Dalam upaya menciptakan kesan ini pada penonton, Radit sebagai sutradara mengecohnya dengan penegasan pada karakter para tokoh yang membangun kekuatan alur cerita.

Kelima hal di atas merupakan hal-hal yang sulit didapatkan dalam dunia perfilman saat ini. Namun, kini Radit berhasil mengantungi kelimanya pada film terbarunya ini.

Kekinian, produksi film Indonesia kian marak dan sudah mulai mengalami perbaikan kualitas agar siap bersaing di lingkup mancanegara. Mengambil range penilaian 1 sampai 10, Revoluside memberikan nilai 9 pada film ini. Dengan kesuksesan film “Hangout” dan film-film lain sebelumnya, kiranya Radit sudah cukup bekal sehingga pantas untuk segera unjuk gigi dan mengepakkan sayapnya ke perfilman mancanegara. Bisa jadi ini adalah salahsatu resolusinya di tahun 2017 bukan? We will see!

Berbanggalah menonton film produksi lokal Indonesia. We need to be proud, support, and go for it!

About the author

ojustinee

Sedang mengambil peminatan BIPA di bangku kuliah. Bercita-cita menjadi ibu guru gaul yang galak, punya body macem Gigi Hadid, dan suami serupa Andrew Garfield. Cheers!

Leave a Comment