Knowledge

THE REASON WHY IMPOSSIBLE TO LIFE WITHOUT LANGUAGE

Begitu mengerikan membayangkan kehidupan tanpa bahasa. Manusia hanya akan memenuhi kebutuhan biologisnya sendiri ─ individualistis. Hanya tahu rasa lapar dan perlu mengisi perut untuk bertahan hidup. Bahkan berhubungan seks untuk menghasilkan keturunan pun menjadi kebutuhan tersier yang sulit dicapai karena tidak adanya produksi bahasa untuk berinteraksi. Sehingga adanya generasi menjadi hal yang utopis. Memburu – makan – beristirahat, begitu seterusnya menunggu renta dan mati. Menjadikan manusia dan binatang berada dalam garis sejajar. Mengerikan!

Apakah kita bisa hidup tanpa bahasa?

Jawabannya adalah bisa, namun tidak akan berkembang. Sebab ilmu pengetahuan tidak akan tersampaikan tanpa bahasa. Kita tidak akan sampai pada zaman serba canggih seperti sekarang. Manusia akan selalu menjadi makhluk primitif yang luntang-lantung tanpa bahasa.

But guyss, ini semua nggak akan terjadi. Mengapa?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita berangkat lewat pertanyaan,

“Apa itu bahasa dan bagaimana manusia dapat berbahasa?”

Pengertian Bahasa

Banyak orang masih beranggapan bahwa setiap makhluk (dalam hal ini, binatang dan manusia) yang mengeluarkan bunyi dari alat ucapnya, berarti ia berbahasa. Salah besar! Ini merupakan sebuah miskonsepsi.

Berbahasa adalah berbicara. Berbicara berarti bertutur kata (melalui lisan maupun tulisan). Dalam bertutur kata, tentu terdapat aturan-aturan yang harus kita pahami agar dapat membentuk makna yang dapat dimengerti oleh lawan bicara. Artinya, bahasa dibatasi oleh sebuah sistem yang mengaturnya. Sistem ini dapat juga disebut tata bahasa. Sistem ini pula yang kemudian dapat menilai baik buruknya kemampuan berbahasa seseorang dengan mengkajinya. Apakah bunyi yang dihasilkan binatang bisa dikaji maknanya? Tidak. Sebab tidak ada sistem yang mengaturnya. So, walaupun secara fisiologis manusia dan binatang sama-sama memiliki alat ucap, namun binatang tidak berbahasa. That’s why human also called “the speaking animal”.

Lalu bagaimana manusia dapat berbahasa? Keep scrolling guys!

Asal Muasal Bahasa

Pada abad ke-17 SM, spekulasi manusia terhadap bahasa dikaitkan dengan takhayul. Para ahli bahasa memulai penelitiannya dengan pertanyaan, “bahasa apa yang pertama ada di dunia?”. Andreas Kemke menyebutkan bahwa Tuhan di surga berbicara dalam bahasa Swedia, nabi Adam berbahasa Denmark, naga berbahasa Perancis, dan menurut Goropius Becanus bahasa di surga adalah bahasa Belanda. Di Cina, kura-kura diutus Tuhan sebagai pembawa bahasa. Di Jepang dan Babilonia, bahasa berasal dari masing-masing Tuhannya. Ras Hindu menyakini Brahmana yang mengajarkan bahasa dan tulis menulis. Kemudian orang-orang Mesir bersikeras menjadikan bahasa Phyrgia sebagai bahasa pertama di dunia hanya karena tuturan pertama yang muncul dari seorang bayi yang mengeluarkan kata ‘becos’, bahasa Phygia yang berarti roti. Para ahli bahasa sampai pada suatu kesimpulan bahwa kajian bahasa ini tidak lagi relevan dilakukan karena terus menekankan egosentris dari suku-suku tertentu.

Tidak berhenti disitu, para ahli melanjutkan penelitiannya pada abad ke-18 SM dan berhasil menelurkan beberapa teori yang belandaskan insting manusia. (1) Pooh-pooh theory, dipelopori oleh Darwin yang mengatakan bahwa bahasa merupakan ekpresi emosi manusia. Contohnya, perasaan jengkel mengeluarkan udara dari hidung dan mulut “pooh” atau “pish” atau kekinian orang menyebutnya “huft”. (2) Dingdong theory, dipelopori Muller yang mengatakan bahwa kesan pertama yang diterima oleh indra yang menstimulus keluarnya tuturan yang sesuai. Orang-orang pada zaman primitif mengucapkan “wolf” ketika melihat serigala. (3) Yo-he-ho theory mengatakan bahwa bahasa pertama lahir dari kegiatan sosial. Pada zaman primitif orang-orang bekerja masih mengandalkan otot mereka untuk mengangkut kayu. Aktivitas ini secara alamiah membuat pita suara mereka bergetar sehingga menghasilkan bunyi “heave” (angkat), dan ketika lelah menghasilkan bunyi “rest” (diam). (4) Bow-wow theory disebut juga onomatopetic theory yakni bahasa muncul menyerupai tiruan bunyi guntur, hujan, angin, sungai, ombak yang melahirkan bahasa seperti menggelegar, mendentum, mendesir; juga kokok ayam, cuitan burung, dan bunyi itik yang melahirkan bahasa berkokok, mencicit, dsb. (5) Gesture theory mengatakan bahwa isyarat mendahului ujaran. Suku Indian pada mulanya berkomunikasi melalui isyarat tangan dengan suku-suku yang tidak berbahasa. Teori ini mengingatkan kita bahwa bahasa bukan hanya ujaran lisan dan atau tulisan. Teori ini pun sarat akan kelemahan, seperti tidak berlaku pada tempat gelap atau dalam keadaan kedua tangan yang penuh membawa barang. Sehingga mendorong orang-orang mulai berkomunikasi dengan isyarat lisan.

Begitulah kurang lebih sejarahnya, menarik bukan?

Etss tapi pemaparan di atas sebenarnya belum memasuki ruang ilmiah. Karena sesuatu yang ilmiah mensyaratkan keajegan dan keobjektifitasan. Dan spekulasi di atas belum memenuhi nilai tersebut.

Sekarang kita kembali kepada pertanyaan,

“Mengapa manusia tidak dapat hidup tanpa bahasa?”

Revoluside akan mencoba menjawabnya dengan lebih ilmiah.

Pada hakikatnya, manusia dan bahasa berkembang secara bersamaan. Coba kamu telisik, selain fisik, apa yang membedakan kamu waktu bayi dengan kamu sekarang? Ya, kemampuan berbahasa. Celotehan-celotehan kita saat masih bayi tidak bermakna apapun. Lalu, apakah yang mengantarkan kita dapat lancar berbahasa seperti sekarang ini?

Manusia memiliki OTAK

Eh, sebentar. Bukankah binatang juga mempunyai otak? Ya, manusia dan binatang sama-sama memiliki otak. Namun perbedaannya, otak manusia dianugerahi sebuah blackbox yang dinamakan LAD (Language Acquisition Device).

So which the right is,

Manusia memiliki LAD di otaknya

THE REASON WHY IMPOSSIBLE TO LIFE WITHOUT LANGUAGE 1200 71488041 human brain

Gambar: bagian otak hemisfir kiri

LAD merupakan sebuah piranti pemerolehan bahasa yang terletak di bagian otak sebelah kiri (hemisfir kiri). Hemisfir kiri memiliki kemampuan yang lebih dominan dalam menangani masalah kebahasaan, karena didalam hemisfir ini terdapat empat daerah besar yang dinamakan lobe; lobe frontal, temporal, osipital dan parietal. Masing-masing lobe ini mempunyai tugas dan peran masing-masing. Lobe frontal bertugas mengurusi masalah yang berkaitan dengan kemampuan kognisi, termasuk kebahasaan. Pada daerah lobe frontal terdapat daerah wernickle yang bertugas memahami pesan yang masuk ke otak dan selanjutnya pesan tersebut akan dikirim ke daerah broca yang bertugas menanggapi pesan tersebut. Jika digambarkan menurut Chomsky, begini lah LAD bekerja:

THE REASON WHY IMPOSSIBLE TO LIFE WITHOUT LANGUAGE LAD works

Sadarkah kita bahwa semakin dewasa maka kosakata yang dikuasai pun semakin banyak. Nah itulah kinerja LAD. Bukan hanya menyimpan berjuta-juta kosakata ke dalam memori, menurut McNeill (seorang ahli psikologi bahasa) LAD juga melakukan kerja pengolahan bahasa seperti mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam, misalnya setelah kita mendapatkan kalimat “Ibu memasak nasi” kita akan mencoba memahami struktur kalimatnya sehingga menghasilkan variasi kalimat tersebut seperti; “Ibu memasak mie”, “Ayah memasak mie”, “Ayah mencuci mobil”, sampai kepada kalimat kompleks “Ibu Andi memasak nasi dan mie di dapur ketika Ayahnya mencuci mobil di garasi”, begitulah seterusnya.

Dengan adanya LAD, manusia dapat optimal mengolah bahasa. Kondisi inilah yang kemudian dikatakan bahwa manusia secara kodrati memiliki bakat bahasa. Bakat bahasa tidak diberikan Tuhan kepada selain manusia. Pada hakikatnya, bahasa lah yang membedakan manusia dengan binatang. Bahasa memanusiakan manusia. We need to be grateful for having this ability.

Seiring otak manusia terus menjalankan kerja nalarnya, maka manusia pun akan terus berbahasa. Sebab bahasa merupakan entitas daya nalar manusia. Bahasa melambangkan pikiran atau membangkitkan pikiran. Bahasa digunakan manusia untuk menyatakan pikiran, gagasan, obsesi, perasaan, kehendak, pada waktu berpikir/bernalar, berkhayal/berimajinasi, berkreasi, berangan-angan. Maka tidak heran bila kemampuan berbahasa dijadikan barometer intelektualitas seseorang.

So, for every single person.

Words are free. It’s how you use them that may cost you.

Selama manusia masih hidup dan berpikir, maka manusia berbahasa dan ilmu pengetahuan akan terus ada. Then, life wouldn’t be this real without language.


Referensi:

Alwasilah, A. Chaedar. (2011). Beberapa Mazhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa

Alwasilah, A. Chaedar. (2011). Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa

Bachari, Andika Dutha., Harras, Kholid A. (2009). Dasar-Dasar Psikolinguistik. Bandung: UPI Press

 

 

About the author

ojustinee

Sedang mengambil peminatan BIPA di bangku kuliah. Bercita-cita menjadi ibu guru gaul yang galak, punya body macem Gigi Hadid, dan suami serupa Andrew Garfield. Cheers!

Leave a Comment