Speak

Tarkam, Destinasi Pesepakbola Indonesia?

tarkam tarkam ,destinasi pesepakbola indonesia? Tarkam, Destinasi Pesepakbola Indonesia? tarkam

(Image for: Football)

Bagi insan sepak bola dan pemain tim nasional Indonesia: Lebih mudah menerima kekalahan dari timnas negara lain daripada menerima kekalahan dari pemerintah sendiri.” – Tommy Welly

Sanksi yang berlaku mulai Sabtu 30 Mei 2015, kala itu berawal dari intervensi yang dilakukan oleh pemerintah. Terlalu ikut campurnya Kemenpora dengan persepakbolaan di Indonesia berakhir dengan pembekukan organisasi PSSI.

—-Baca juga:

——Atmosfer Ketatnya J-League, Kabar dari Irfan Bachdim

“Garuda.. Didadaku. Garuda.. Kebanggaanku.”

Masih membekas di ingatan kita tentang masa-masa keemasan sepak bola tanah air. Masa dimana tanpa kita sadari, rasa nasionalis itu tumbuh. Masa dimana segenap harapan publik, seakan jatuh pada bait lagu yang sama. Serentak.

Akankah kita merasakan masa-masa itu lagi?

Kayaknya.. NGGAK!

Bukan rahasia lagi kalo ternyata insiden kemaren menyebabkan seluruh klub dan timnas Indonesia di semua level gak lagi bisa ambil bagian dalam kompetisi yang diselenggarakan AFC dan FIFA.

Iya. Sama sekali gak bisa!

Dilansir dari CNN, Kualifikasi Piala Asia U-16 dan U-19 2016, Kualifikasi Piala Dunia 2018, Piala Asia U-14 Wanita, Piala Asia Futsal Wanita 2015, Kualifikasi Piala Asia Futsal 2016, serta Piala AFC 2015, gagal Timnas perjuangin.

Akhirnya yaa, bagai singa dibalik jeruji. Ada pemain, tapi gak ada lomba. Dengan dibekuinnya PSSI, terjadilah impotensi besar-besaran dalam sepak bola tanah air.

Terus gimana dong nasib pesepakbola Indonesia?

Tarkam, Destinasi Pesepakbola Indonesia?

Kalo menurut Revoluside, Tarkam bisa banget di jadiin salah satu solusi sementara selama PSSI dibekukan.

Emangnya Tarkam itu apaan sih?

Tarkam adalah singkatan dari anTAR KAMpung.

Tarkam ini merupakan turnamen sepakbola yang diadain antar kampung, dengan tim kampung, wasit seadanya dan aturan main yang juga sederhana (bebas dari aturan FIFA).

Tapi jangan salah. Tarkam ini bukan merupakan liga amatir yang berada di bawah naungan PSSI. Tarkam berdiri sendiri atas inisiatif PSKK~Persatuan Sepakbola Kampung Kampung. (oke ini gak serius)

Nahh.. Permainan sepak bola antar kampung yang aturannya cenderung “bebas” membuat permainan menjadi keras dan kasar. Namun gak menutup kemungkinan juga, bahwa terkadang ada aja perusahaan-perusahaan yang mau mensponsori turnamen kampung ini dengan biaya yang lumayan gede.

Akibatnya Tarkam pun sering dijadiin ajang taruhan besar-besaran! Hal inilah yang akhirnya ngebuat tim kampung yang udah disponsorin ini, berani bayar pemain dari liga profesional buat ikut main di kampung supaya tim nya kelak bisa juara.

Gak percaya? Nih liat aja. Pemain sekelas Gareth Bale  pernah lho main Tarkam!

Pertaannya, apakah Tarkam menghasilkan pemain berbakat?

Melihat data pemain dan manajemen yang diberlakukan di dalam Tarkam, jawabannya masih belum bisa disimpulkan.

Namun faktanya, banyak pemain Timnas Indonesia yang pada masa muda nya justru berawal dari tarkam.

Sebut saja Andik Vermansyah atau Ahmad Bustomi. Ketika masih di usia muda, mereka telah berhasil menjadi bintang Tarkam. Skill mereka yang berada diatas rata-rata menyebabkan banyak pemandu bakat dari klub bola di daerah tersebut menawarkan kontrak.

Dari sini bisa kita lihat, bahwa banyak juga pemain di liga domestik yang justru tidak berasal dari SSB (Sekolah Sepak Bola), melainkan dari Tarkam.

Selanjutnya, apabila kita membandingkan dengan contoh konkret dari negara luar, sepakbola jalanan bisa dibilang melahirkan beberapa bintang kelas dunia.
image tarkam ,destinasi pesepakbola indonesia? Tarkam, Destinasi Pesepakbola Indonesia? wpid unnamed2

(Image for: Diego Costa)

Kita semua tau bahwa Diego Costa adalah mesin gol Chelsea.

“Predator mematikan di kotak penalti.” Begitulah sebutannya.

Tapi siapa yang tau bahwa Diego sebenernya ga pernah gabung klub manapun sampe dia berumur 16 tahun.

Diego bukanlah hasil didikan sekolah sepakbola layaknya Leonel Messi atau Cristiano Ronaldo. Messi yang dari kecilnya udah ikut akademi La Masia Barcelona yang terkenal seantero dunia, sedangkan Diego Costa?

Diego tidak mengalami hal tersebut. Diego hanya mengikuti passion-nya sambil bermain bola dipinggir jalan, tepatnya di sebuah kota Lagarto di Brazil, yang bahkan gak punya fasilitas olahraga atau lapangan rumput!

“Jalanan adalah sekolah saya” begitu ucap Diego Costa.

Saat umur 14 tahun, Diego pindah ke Sao Paulo. Disana dia sempet gabung dengan klub kecil Barcelona Esportivo Capel, sayangnya Diego cuma main sebentar lalu akhirnya dikeluarkan. Diego dapet banyak masalah terutama karena kebiasaan MEMUKUL pemain lawan dan MENGANCAM wasit.

Hal yang udah biasa banget terjadi kalo kita mau bandingin dengan Tarkam!

Meskipun begitu, Diego Costa dengan skill dan bakatnya yang terukir lewat sepak bola Tarkam, akan tetap tercium baunya.

Atletico Madrid, lewat pemandu bakatnya, mereka merekrut Costa di tahun 2007. Costa bersama Radamel Falcao berhasil mencetak hingga 54 gol di Atletico Madrid. Hingga sekarang Diego Costa pun muncul di daftar top skorer Liga Inggris bersama Klub Chelsea.

Yang ingin disampaikan adalah, pemain berbakat lahir dilapisan dan lingkungan manapun, termasuk didalamnya kampung atau jalanan. Jika kenyataannya demikian, sepak bola Tarkam dapat memberikan banyak dampak positif apabila pengelolaan-nya serius dilakukan.

Konon, coach Indra Syafjri juga mencari bakat terpendam pemain Indonesia sampai ke pelosok-pelosok kampung. Akibat kerja keras Indra Sjafri, Timnas Indonesia berhasil meraih berbagai gelar juara. Inilah poin pertama.

Selanjunya timbul pertanyaan dalam benak kita, yang sebenarya cukup menggelitik.

Apakah sepak bola Tarkam bisa menutup kebutuhan ekonomi para pemain?

Emangnya gaji pemain Tarkam berapa sih? Kalo menurut Kurniawan (Kapten klub Persiraja Banda Aceh) dalam sekali tanding, pemain bisa dibayar hingga 600 ribu, tergantung turnamen yang diikutin sama tim yang menawarkan.

Nah kalo seminggu bisa main 3-4 kali kan lumayan tuh buat dijadiin penghasilan sementara daripada nganggur nungguin liga yang tak kunjung jelas alurnya, bener ga?

Emang sih gak akan cukup dengan duit segitu. Namanya juga solusi sementara.

Disisi lain, sepak bola Tarkam berfungsi untuk tetap jaga stamina sekaligus ningkatin skill pemain. Kalo selama PSSI dibekukan pemain gak latihan, yaa bisa turun drastis kemampuannya. Akhirnya bukan progress yang bakal didapet, tapi malah kemunduran. Inilah poin kedua.

Terakhir, karena tidak ada ikatan apapun dengan FIFA, maka Tarkam memiliki peraturan yang lebih bebas. Hal ini memungkinkan timbulnya kreatifitas baru dalam bersepak bola. Kreatifitas yang bagaimana?

Abdellah Bellabas asal Belanda, disebut sebagai penemu dan pencipta sepak bola freestyle ala jalanan. Bellabas dapet julukan “Maradona Amsterdam”. Ada beberapa skill yang dia kembangin, diantaranya gaya sit down sambil memutar bola dan juggling.

Nih videonya :

Tarkam akan menghidupkan lagi sepak bola freestyle. Sepak bola yang tadinya hanya soal merumput dan mencetak gol, kini memiliki nilai estetik tersendiri. Hal ini bisa memancing antusias orang-orang untuk membentuk komunitas-komunitas sepak bola freestyle yang akhirnya lagi-lagi, menghasilkan pemain berbakat. Inilah poin ketiga.

Emang sih, belum ada bukti yang bisa menjamin akan berkembang sepak bola freestyle ini. Untuk itu Revoluside nyaranin lewat artikel kali ini untuk kedepannya memotivasi yang lain dalam ngembangin skill freestyle.

Biar kelak, kita gak cengoo meratapi sepak bola nasional yang lumpuh.

***

Kira-kira itulah hal yang bisa Revoluside share sebagai salah satu solusi sementara dari dibekukannya PSSI.

Memang masih diakui, belum dilakukan analisis yang mendalam. Tapi setidaknya, Revoluside gak mau tinggal diam ngeliat sepak bola tanah air yang kini mandul.

Selalu ada kok yang bisa kita lakukan.

Kalo kamu punya solusi dan pandangan lain, jangan malu-malu untuk share di komen yaa!

Hidup sepak bola tanah air! Hidup Indonesia!

 

 

About the author

Usman Faiz

An adventurer, musician, engineer, and writer. Now study at Institut Teknologi Bandung.

1 Comment

Leave a Comment