Relationship

Percaya Deh, Kamu Pasti Bakalan Gagal Move On

Percaya Deh, Kamu Pasti Bakalan Gagal Move On galau di pantai

Eits, jangan ngambek dulu. Apalagi sampe depresi terus menghanyutkan diri ke laut.

Kenyataannya nih, ada banyak kemampuan yang harus dikuasai oleh manusia untuk bisa menjalani hidup dengan baik dan riang gembira, kemampuan move on adalah salah satunya.

Di umur kita yang masih unyu-unyu ini *cieilah* permasalahan seputar hubungan percintaan menjadi hal yang paling melekat di kehidupan sehari-hari. Dari proses PDKT yang penuh momen-momen yang bikin geregetan, fase pacaran yang penuh dengan gejolak-gejolak asmara, sampai akhirnya ketika kita harus mengalami tragedi putus yang biasanya disertai drama-drama yang hebohnya ngalahin drama korea.

Lantas apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Move On.

Move on adalah proses dalam mengatasi kesedihan atas suatu peristiwa tertentu (atau dalam kasus ini, putusnya hubungan asmara) dan kembali melanjutkan hidup dengan sebagaimana mestinya. Kamu harus pahami bahwa dengan move on, kamu membebaskan diri dari perasaan sedih kamu dan kenangan-kenangan masa lalu kamu dan si mantan. Setelah bebas, kamu pun kembali melanjutkan hidup dan melakukan hal-hal yang memang menjadi tujuan hidupmu, dan hatimu pun siap untuk membuka diri terhadap hubungan yang baru.

Nah, jadi kalo kamu berpikir tanda suksesnya move on adalah dengan mendapatkan pacar baru, kamu salah. Karena, meskipun kamu sudah punya pacar seganteng Andrew Garfield atau secantik Emma Stone sekalipun, kamu akan tetap gagal move on kalo masih kayak gini:

           Masih menyalahkan diri sendiri

Pada masa-masa awal kandasnya sebuah hubungan, tentunya kita akan mengalami gejolak emosi yang campur-aduk. Perasaan kecewa dengan diri sendiri karena telah gagal membina hubungan biasanya adalah yang paling dominan. Siapa pula yang senang ketika gagal? Terlebih lagi, rasa sayang kamu ke dia yang masih nyisa bikin alam bawah sadarmu menolak untuk menyalahkan dia.  Makanya pada fase ini, biasanya kamu nggak akan berhenti menyalahkan diri sendiri. Akhirnya, kamu selalu dihantui pikiran-pikiran buruk bahwa kamu nggak cukup baik bagi si pacar (sekarang mantan). Seakan-akan, kandasnya hubungan kalian adalah salah kamu sepenuhnya.

                Wake up.

Sebelum kamu makin sibuk menyalahkan diri sendiri lebih jauh, kamu harus tahu bahwa sebuah hubungan merupakan tanggung jawab dari kedua belah pihak. Dan ketika hubungan kalian sudah berakhir, artinya kamu dan mantan sudah menyetujui keputusan tersebut. Jadi kalau kamu masih menganggap semuanya salah kamu dan memikirkan hal tersebut terus menerus, kamu nggak akan bisa move on. Padahal, kamu punya pilihan untuk melanjutkan hidup dengan bahagia.

           Ada yang nggak beres dengan perpisahanmu

Apakah artinya abis putus kamu harus nyapu-nyapu? Tentu saja bukan. Perpisahan yang nggak beres artinya ada masalah yang belum selesai antara kamu dan pasangan, tapi kalian (atau salah satu dari kalian) memutuskan untuk menyerah dan akhirnya putus. Perpisahan yang nggak beres ini, pada akhirnya akan membuat kalian kepikiran terus dan ujung-ujungnya susah untuk move on.

Kenapa dia mutusin gue? Gue salah apa? Apa dia selingkuh? Apa ketek gue bau? Jangan-jangan dia nggak suka kalo bentuk kumis gue kaya Hitler? Kalo kamu nggak usaha untuk cari jawabannya, pertanyaan-pertanyaan kaya gini bakalan bikin usaha move on kamu kaya jalanan tol Cikarang hari sabtu siang, macet total. Coba deh, selesaikan dulu masalah-masalah kalian sampai kedua pihak bisa saling menerima. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah untuk memaafkan keadaan dan nantinya akan lebih mudah untuk move on.

           Takut

Padahal kamu putusnya nggak sambil nonton Juon atau The Ring. Padahal kamu nggak nangisin dia di samping kuburan pas malem jumat kliwon. Tapi entah kenapa, seluruh proses move on ini membuat kamu takut. Takut nggak bisa menemukan orang sebaik mantan kamu. Takut nggak bisa merasakan kebahagiaan yang (dulu) pernah kamu rasakan. Takut nggak ada yang mau sama kamu. Takut mengulangi kesalahan yang sama dan bikin hubungan kamu kandas lagi. Dan takut-takut lainnya yang bikin kamu semakin terpuruk.

Seperti yang udah kita bilang sebelumnya, move on adalah proses untuk beranjak dari kesedihan dan melanjutkan hidup. Untuk bisa move on, tentunya bakalan banyak perubahan yang harus terjadi supaya kamu nggak terjebak dalam keadaan sedih terus-menerus. Kemungkinan akan gagal lagi? Pasti ada. Tapi pertanyaannya adalah: apakah kamu mau terperangkap dalam ketakutan, atau terus maju dan menghadapi berbagai kemungkinan yang tidak terduga?

           Emang kamunya aja yang nggak mau

Kalo kamu masih dengan sukarela stalking medsos mantan, masih dengan sengaja nyari-nyari topik buat ngobrol sama doi, dan masih dengan heboh membicarakan tentang hubungan kalian dulu, berarti kamu nggak boleh ngeluh kalo usaha move on kamu gagal. Itu karena kamunya sendiri emang nggak mau move on.

Ketika kamu terus menerus merasa gagal move on, bisa jadi di alam bawah sadar kamu emang belum ada kemauan untuk itu. Entah karena emang belum bisa mengikhlaskan, masih sayang, atau terlalu nyaman berada dalam keadaan sedih.

Poin terakhir mungkin terdengar nggak masuk akal, tapi sebenarnya sering terjadi. Terkadang perasaan sedih menimbulkan kenyamanan ketergantungan tersendiri sehingga kita enggan terlepas dari perasaan itu sendiri. Belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut sih, tapi kondisi ini mirip-mirip sama salah satu gejala mental bernama masokis. Eits tapi kamu jangan mikir aneh-aneh dulu lho ya. Masokis bukan hanya terdapat pada konteks kelainan seksual. Kalo menurut kamuskesehatan.com sih, masokis adalah perasaan senang yang timbul dari rasa sakit fisik dan psikologis yang disebabkan oleh diri sendiri maupun orang lain.

Intinya, move on itu bukan masalah kamu bisa apa enggak, tapi kamu mau atau enggak. So, percaya deh, selama kamu nggak punya kemauan yang kuat dan masih stuck sama hal-hal di atas, kamu akan selalu gagal move on. Dan ingat juga:

Once you realize you deserve better, letting go will be the best decision ever

About the author

Rizky Zulkarnaen

Speaker, Writer, Engineer

Leave a Comment