Speak

Perang Melawan Kemiskinan : Are We Poor, or Deprived?

Perang Melawan Kemiskinan :  Are We Poor, or Deprived? 22603707
Tak dapat dimungkiri, kemiskinan merupakan masalah yang tak pernah terselesaikan bahkan dari sebelum negara ini merdeka. Bisa dibilang, pertarungan negara ini atas pemberantasan kemiskinan merupakan pertarungan yang abadi, ditambah dengan jumlah penduduk Indonesia terbanyak ke-empat di dunia, sehingga rasanya tidak mungkin kemiskinan bisa dihilangkan sepenuhnya.
.
Hidup ini, semakin hari semakin sulit. Kemiskinan dimana-mana. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.
.
Yaa begitulah, sebuah kalimat yang tidak asing kita dengar, sehingga menjadi kesimpulan dari anggapan umum masyarakat mengenai kondisi ekonomi negara ini yang dinilai semakin buruk. Contoh saja Wiyono, 44 tahun bekerja sebagai satpam disalah satu gerai showroom motor di Bogor, mengatakan bahwa dirinya tidak merasakan kemisikinan di Indonesia berkurang dan kerap kali membandingkan, kemudahan hidup pada jaman Pak Harto dulu dengan sekarang. Manto, 49 tahun bekerja sebagai tukang nasi goreng selama lebih dari 12 tahun mengatakan bahwa kemiskinan di Indonesia masih banyak dan semakin bertambah karena harga – harga yang terus meningkat.
.
Sadar atau tidak, pernyataan yang demikian juga menjadi pandangan kebanyakan orang Indonesia yang sepakat bahwa negara ini memang masih jauh dari kata makmur. Bahkan kebanyakan dari kita dengan mudahnya percaya dengan pernyataan-pernyataan tersebut, karena disaat ada yang mengatakan kemiskinan di Indonesia bertambah, kita langsung menghubungkannya dengan fenomena sehari-hari dan melihat bahwa kemiskinan memang masih kerap terjadi disekitar kita.
/
Padahal apabila kita melihat data statistik mengenai peningkatan kemiskinan di Indonesia, apakah benar negara ini semakin miskin?
.

Indonesia dan Kemiskinan

Jika kamu menggunakan data dari United Nations, Indonesia memang benar masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Tapi bukan berarti kalau Indonesia tidak mengalami kemajuan. Faktanya, pemerintah Indonesia (sejak merdeka hingga sekarang) terus berupaya untuk mensejahterakan rakyat dan menekan angka kemiskinan dengan berbagai program berbeda sesuai dengan presiden yang memimpin. Dan semua pemerintahan yang pernah ada telah terbukti berhasil mengurangi angka kemiskinan.

Kalau kamu gak percaya, yuk simak rentetan data statistik dibawah ini yang sudah Revoluside rangkum dari GapMinder[1] mengenai peningkatan kesejahteraan dan harapan hidup yang terjadi di Indonesia dibanding negara lain diseluruh dunia.

Pertama, kita lihat bagaimana keadaan di Indonesia relatif terhadap negara-negara lain pada tahun 1900.

Perang Melawan Kemiskinan :  Are We Poor, or Deprived? gapminder 1900

Pada tahun 1900, negara kita termasuk negara yang betul-betul miskin dengan penghasilan per-orang yang hanya $1198 per tahun. Angka harapan hidup di Indonesia saat itu pun rendah sekali, yaitu 30 tahun. Artinya, rata-rata orang Indonesia meninggal di usia 30 tahun dikarenakan pada saat itu banyak wabah penyakit yang menyerang disertai kurangnya fasilitas kesehatan hampir disetiap daerah.

Selanjutnya, bagaimana kondisi Indonesia setelah merdeka?

Perang Melawan Kemiskinan :  Are We Poor, or Deprived? gapminder 1945

Tidak terlalu jauh berbeda. Malahan, negara kita mengalami peningkatan kemiskinan dengan penghasilan perorang yang berada pada angka $940 dan angka harapan hidup berada diumur 28 tahun. Kamu pun bisa melihat, negara-negara lain terutama negara barat sudah jauh lebih maju lagi.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Kita coba cek data Indonesia ditahun 2015.

Perang Melawan Kemiskinan :  Are We Poor, or Deprived? gapminder 2015

Faktanya, 70 tahun setelah Indonesia merdeka, negeri ini telah jauh lebih kaya dengan angka pendapatan rata-rata sekitar $10.500 per tahun per orang (disesuaikan dengan inflasi). Indonesia juga jauh lebih sehat dengan angka harapan hidup mencapai 71 tahun. Bisa dibilang, Indonesia lebih kaya dan lebih sehat dibanding negara manapun pada tahun 1900.

Jadi apabila kita kembali dengan anggapan awal yang mengatakan bahwa Indonesia itu miskin dan terjadi pertambahan kemiskinan, dengan data statistik Revoluside bisa jawab bahwa anggapan tersebut ternyata SALAH BESAR!

Bahkan menurut Presiden World Bank, Jim Yong Kim, atau yang biasa disebut Dr. Kim, usaha pemerintah Indonesia dalam memberantas kemiskinan di negaranya dinilai sukses[2]. Indonesia berhasil mengurangi kemiskinan dengan menurunkan angka kemiskinan absolut hampir setengah sejak tahun 1998 hingga saat ini dimana pada tahun 1998 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 49,5 juta dan data terakhir per September 2014 menjadi hanya 27 juta orang.

Lalu timbul pertanyaan, kalau memang faktanya negara ini semakin sejahtera, kenapa sih masyarakat Indonesia cenderung masih berpikir bahwa negara ini malah semakin miskin? Kenapa banyak mahasiswa yang masih terjerumus dengan data yang sebetulnya keliru dan pada akhirnya turun ke jalan sambil beralasan bahwa rakyat Indonesia makin sengsara?

Deprivasi Relatif dan Kaitannya dengan Kemiskinan

Secara sosiologi dan beberapa literatur yang Revoluside dapatkan, kekeliruan yang timbul ini sebenarnya biasa disebut dengan fenomena deprivasi relatif. Apa itu deprivasi relatif?

Secara sederhana, deprivasi relatif didefinisikan sebagai keadaan psikologis dimana seseorang merasakan ketidakpuasan atas kesenjangan/kekurangan subjektif yang dirasakan dirinya ataupun kelompoknya dibandingkan dengan orang atau kelompok lain. Keadaan deprivasi inilah yang menimbulkan persepsi adanya suatu ketidakadilan[3].

Pengertian deprivasi relatif ini dapat kita kaitkan dengan persepsi kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Faktanya, banyak penderita deprivasi di Indonesia yang sebenarnya belum tentu miskin tapi berpandangan bahwa dirinya masih miskin. State of mind masyarakat Indonesia sekarang dapat dikatakan terpengaruh dengan deprivasi relatif sehingga cenderung tidak merasa bahwa kemiskinan di Indonesia berkurang secara signifikan.

Deprivasi yang tengah terjadi  di masyarakat ini pun bukanlah diagnosa asal-asalan yang Revoluside simpulkan. Deprivasi yang timbul ini memiliki alasan kuat, salah satunya adalah terdapat kesenjangan kekayaan yang semakin timpang yang ditunjukkan oleh data dari BPS mengenai peningkatan angka ratio gini. Menurut BPS, dari tahun 1996 hingga 2013 angka ratio gini (sebuah ukuran ketimpangan agregat) terus meningkat dari 0.355 hingga 0.413[4]. Dengan penurunan angka kemiskinan yang sangat signifikan dari tahun 1996, angka tersebut terus bertambah sehingga kesenjangan pendapatan dan kekayaan tidak seiring dengan penurunan angka kemiskinan.

Pada akhirnya, kesenjangan kekayaan yang timbul secara tidak langsung membuat harapan kesejahteraan masyarakat lebih tinggi dari garis kemiskinan sehingga deprivasi relatif kerap terjadi.

So, Are We Poor or Just Deprived?

Kesimpulannya sih, Revoluside berpandangan bahwa Indonesia memang masih memiliki penduduk yang miskin. Tetapi tidak sebanyak penduduk lain yang mengalami deprivasi, bahkan penduduk deprivasi ini lebih banyak dari penduduk miskin.

Dan menurut sosiolog James C. Davies dalam bukunya When Men Revolt and Why: A Reader in Political Violence and Revolution (1971)[5], deprivasi relatif merupakan penyebab utama gerakan sosial seperti demonstrasi dan bahkan revolusi dan reformasi. Sehingga hal itu pula yang memperkuat anggapan bahwa negara kita semakin kacau, miskin, dan dipimpin oleh pemerintahan yang tidak becus.

Lebih jauh lagi, secara tidak langsung deprivasi relatif berpengaruh terhadap stabilitas politik suatu negara, karena.. Ini bisa menjadi masalah yang besar suatu saat. Pemerintah seharusnya bisa memahami bahwa deprivasi relatif ini sedang terjadi di Indonesia dan bisa menanggulanginya secepat mungkin dengan program – program yang bertujuan pemerataan kesejahteraan dan pendidikan.

Akhir kata, Revoluside berharap bahwa semoga miskonsepsi ini bisa cepat hilang dari pikiran masyarakat dan menjadikan kita lebih aware dengan kondisi negara kita sendiri. Karena faktanya kita tidak semakin miskin kok, hanya terdeprivasi.

 

 

Referensi :

[1]        http://www.gapminder.org/world [2]        http://web.worldbank.org/ [3]        http://study.com/academy/lesson/relative-deprivation-in-psychology-theory-definition.html [4]        http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1493 [5]        Davies, James C., ed. 1971. When Men Revolt and Why: A Reader in Political Violence and Revolution. New York: Free Press

 

About the author

Rizky Zulkarnaen

Speaker, Writer, Engineer

Leave a Comment