Speak

Memimpin Adalah Sebuah Kesalahan

——————————————-“Hanya sekedar gurauan pagi, tanpa data, tanpa analisis.”

 

Uapnya masih mengepul. Ya, uap panas dari kopi yang baru saja ku seduh masih mengepul. Mengaburkan pandangan dan realita kalau angin yang menghembus perlahan membawaku dalam kesunyian.

Sama seperti pagi kemarin. Koran pagi ini syarat akan hiruk pikuk krisis kepemimpinan yang menurut pandanganku, seakan tak pernah lepas dari celaan.

Sudah beberapa tahun belakangan, pemimpin yang katanya ‘planga-plongo’ itu masih terus dihujani berbagai kritik. Mulai dari kritik yang paling logis dan struktur, sampai yang ‘awur-awuran’ tanpa kajian yang mendalam.

Melihat situasi tersebut hampir disetiap harinya, aku merasa heran. Jika memang hal terbesar yang akan dihadapi saat menjadi pemimpin adalah disalahkan, kenapa pula setiap harinya penduduk negeri ini terus memproduksi calon-calon pemimpin?

Bukan ingin mengatakan bahwa berkehendak menjadi pemimpin adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan. Namun, hal apakah yang membuat seorang begitu tertarik menjadi seorang pemimpin, padahal senyatanya menjadi seorang pemimpin adalah sebuah kesalahan?

“Sebentar, kesalahan bagaimana?”

Langit yang perlahan menjadi lembayung, menarik kembali khayalku untuk terus larut dalam gurauan kosong melompong, hilang isi. Gurauan tanpa makna namun terus kupertanyakan.

Pemimpin. Aku menjadi begitu skeptis akan kata tersebut. Negeri ini sudah terlalu banyak memiliki calon pemimpin, hingga sangat sedikit yang tersisa untuk dipimpin. Sebenarnya, apa yang membuat calon-calon pemimpin tersebut merasa dirinya pantas untuk memimpin? Apa memang hanya kekuasaan dan jabatan yang mereka cari? Ataukah, apa mereka benar-benar tulus ingin mengabdi untuk rakyatnya?

Andai saja ada sebuah alat yang dapat mengukur kecintaan seorang pemimpin terhadap apa yang Ia pimpin untuk menjawab hal ini. Secepatnya negeri ini lepas dari kesengsaraan.

Aku pun juga pernah mendengar istilah : Pemimpin Muda. Ya, kata yang terdengar sangat hebat dan berpengaruh.

Mereka yang menjadi pemimpin di usia muda merupakan sesuatu yang pastinya membanggakan. Ditangannya lah nasib apa yang dipimpinnya, tanggungjawabnya begitu besar disaat usianya masih tergolong sebagai pemuda.

Aku juga mengakui bahwa, semangat dan optimisme kaum muda tak boleh diremehkan. Fakta menunjukkan bahwa banyak perubahan besar yang terjadi dalam suatu negara akibat gerakan yang dilakukan para pemimpin-pemimpin mudanya.

Disisi lain, aku mengenal sosok Pemimpin Tua. Pemimpin yang dinilai lebih bijak dan senior dari pemimpin-pemimpin lain. Pemimpin dambaan yang langkahnya penuh kehati-hatian dan perhitungan.

Tapi bagaimanapun, apabila konteks yang dibicarakan adalah menjadi seorang pemimpin, muda dan tua menurutku sama saja. Sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang tua tak menjamin pengalaman, pun yang muda tak menjamin inovasi.

Dan memang, seperti yang kuceritakan diawal, sejak dahulu kala posisi menjadi seorang pemimpin selalu dan akan terus diperebutkan. Tak peduli usia, latar belakang, status, agama, dan kalangan orang tersebut. Semua memiliki keinginan yang sama, yaitu keinginan untuk memimpin.

Padahal pada kenyataannya..

“Pahitnya lebih banyak dibandingkan rasa manis yang dirasakan.”

Ya! Disinilah letak kesalahannya.

“Setiap pemimpin memang mempunyai kekuasaan, tapi bukan untuk menjadi penguasa”, pikirku.

Pemimpin adalah pemegang tanggung jawab untuk membawa orang-orang yang dipimpinnya mencapai tujuan bersama, bukan malah sibuk mewujudkan keinginan sendiri bersama-sama.

Dengan begitu, dapat dikatakan kalau pemimpin adalah pelayan, bukan yang dilayani.

Tapi, ketika semua keadaan berbalik, siapa yang disalahkan?

Disinilah rupanya terjadi banyak kesalahpahaman. Ketika posisi seorang pemimpin diibaratkan sebagai subjek tunggal yang memiliki kekuasaan penuh, yang akan diperlakukan secara ekslusif bila dibandingkan orang lain, saat itulah terjadi pergeseran makna dari kata pemimpin.

Salah jika pemimpin tidak merasakan kesengsaraan orang-orang yang ia bawahi. Salah jika kini posisi pemimpin disamakan dengan penguasa.

Ketika dalam hati ini timbul keinginan untuk memimpin, sudah siapkah kita menanggung resikonya?

Karena pada saatnya memimpin nanti, seorang pemimpin akan mengerjakan pekerjaan tersulit yang tidak bisa diselesaikan oleh bawahannya. Yang menanggung banyak cercaan dan keluhan ketika kinerjanya dipertanyakan. Yang tak bisa berbuat semaunya karena dirinya adalah teladan yang semua tindak-tanduknya diperhatikan.

Pemimpin harus melepaskan jaket keegoannya sebagai seorang individu karena permasalahan bersama yang jadi prioritas. Yang tidur malamnya sedikit seiring banyaknya amanah yang ia emban. Bahkan bisa jadi tidak bisa tidur karena ia sangat terpikirkan oleh masalah atau musuh yang tengah dihadapi.

Yang seharusnya paling semangat dan enerjik dikala orang lain sedang santai dan bermalas-malasan. Yang tak pernah lelah untuk belajar dan menerima kebenaran dari siapapun sekalipun dari anak kecil. Yang bersedia mengorbankan waktu, harta, pikiran, dan tenaganya hanya untuk rakyat. Yang gelisah karena ketakutannya kalau-kalau ia menzhalimi ‘rakyat’ yang dipimpinnya tanpa sadar.

Ya, itulah pemimpin. Tidak, lebih tepatnya, itulah sebenar-benarnya pemimpin. Pemimpin khayal. Hahahaha, sial! Gurauan ini malah membuatku tertawa.

Kembali ku seruput kopi yang mulai mendingin. Terlalu kental. Sekental mentari yang semakin meninggi dengan sinarnya yang mulai menyusup ke sela-sela pohon didepan balkon rumahku.

Bersamaan dengan itu, aku merasa bahwa pagi ini berhasil merubah pandanganku.

Pagi ini aku melihat, bahwa menjadi pemimpin sejati hakikatnya adalah sebuah penderitaan.

Aku melihat, tidaklah mudah untuk mengemban tanggung jawab yang besar namun tanpa cela.

Aku melihat, tidaklah cukup meski jiwa raga ini dikorbankan sepenuhnya untuk memperbaiki apa yang salah.

Dan aku melihat, pabila diriku kelak menjadi seorang pemimpin,

itu mungkin, adalah sebuah kesalahan..

 

 

 

 

Oleh : Rizky Zulkarnaen

About the author

Rizky Zulkarnaen

Speaker, Writer, Engineer

Leave a Comment