Speak

Lambang Garuda dan Sejarahnya yang Disamarkan

INA  Lambang Garuda dan Sejarahnya yang Disamarkan INA

Teruntuk Pemimpin Negeri Khatulistiwaku; Allahyarham Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie (Sultan Hamid II), ku persembahkan pembelaanku untukmu”  – Anshari Dimyat

Siapa sih yang tidak tahu Penjahit Bendera Merah Putih pertama dulu? Pastinya Ibu Fatmawati. Siapa pula yang tidak tahu pencipta lagu Indonesia Raya? Sungguh terlalu kalau tak tahu Pak W.R. Supratman.

Sekarang kalau ditanya, siapa orang di balik sejarah lambang Garuda yang setiap hari bertengger didepan kelas semenjak kita SD?

Ada yang bisa menjawab?

garuda-pancasila-620x260  Lambang Garuda dan Sejarahnya yang Disamarkan garuda pancasila

(Image for : Garuda)

Tenang.. Bukan sepenuhnya salah kamu jika kamu kurang mengerti tentang sejarah lambang Garuda. Karena memang sebenarnya sejarah perihal ini disamarkan oleh negara sejak dulu.

Untuk itulah Revoluside akan mencoba share ke kamu siapa sih sebenarnya orang yang berjasa menciptakan lambang Garuda Pancasila negara kita? Kenapa pula Revoluside menyebut tragedi ini: disamarkan?

**

sultan hamid.II  Lambang Garuda dan Sejarahnya yang Disamarkan sultan hamid

(Image for: Sultan Hamid II, Mengapa Ia Dipersalahkan)

Pertama-tama, mari kita kilas balik momen-momen dimana Indonesia baru terbentuk, tepatnya pada tahun 1949. Indonesia yang saat itu masih berbentuk Republik Indonesia Serikat atau RIS tengah mengadakan Konferensi Meja Bundar dengan Belanda agar kedaulatannya diakui. Dalam konferensi ini pula yang nantinya menghasilkan wacana perlunya Indonesia memiliki lambang negara.

Menindak lanjuti hal tersebut, maka dibentuklah Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara  Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M. Yamin sebagai ketua, serta Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, MOH Natsir, R M Ng Poerbat jaraka sebagai anggotanya.

Panitia inilah yang kemudian bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Menurut keterangan Mohammad Hatta dalam buku biografi “Bung Hatta Menjawab” yang ditulis oleh Zainul Yasni terbitan tahun 1979, untuk menerima rancangan tadi, Menteri Priyono melaksanakan sayembara.

Akhirnya terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamd II dan karya M. Yamin.

Proses selanjutnya, pemerintah dan DPR lebih menerima rancangan Sultan Hamid II dikarenakan rancangan milik M. Yamin menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakan pengaruh Jepang.

Seiring berjalannya waktu  Sultan Hamid II terus  memperbaiki lambang Garuda sesuai dengan masukan dari Presiden Soekarno dan Partai Masyumi. Setahap demi setahap, dari mulai perubahan lambang garuda yang memiliki tangan dan bahu manusia menjadi berbentuk burung rajawali, Garuda.

Tidak berhenti disitu, perubahan kembali dilakukan setelah Presiden Soekarno memperkenalkan lambang ini di hotel Des Indes pada 15 Februari 1950 dengan menambahkan jambul pada kepala garuda yang botak agar tak menyerupai lambang Amerika dan menjadikan cakar kaki ke arah depan mencengkram pita putih bertuliskan Bhineka Tunggal Ika.

Terakhir, Sultan Hamid II menyempurnakannya dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara, sehingga Garuda nampak persis, seperti yang kita kenal sekarang.

Rancangan terakhir ini kemudian dijadikan patung dengan bahan baku perunggu berlapis emas yang kemudian disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan dan desainnya tak berubah lagi sampai sekarang.

Yang menjadi pertanyaan, Siapakah sebenarnya Sultan Hamid II? Mengapa kebanyakan dari kita tidak mengenal Sultan Hamid II padahal besar jasanya untuk negeri ini?

Sang pemilik rancangan, Sultan Hamid II atau nama lengkapnya Sultan Abdurrahman Wahid Alkadrie lahir di Pontianak, 12 Juli 1913. Beliau adalah putra dari pendiri kota Pontianak, Sultan VII Kesultanan Pontianak Sultan Syarif Muhammad Alkadrie.

Sultan Hamid dikenal cerdas karena Ia adalah orang Indonesia pertmana yang menempuh pendidikan di Akademi Militer Belanda (KMA) di Breda, Belanda dengan pangkat letnan dua infanteri pada 1936.

Ia juga sempat menjabat ajudan Ratu Juliana dengan pangkat terakhir mayor Jendral serta menjadi Ketua Delegasi BFO (Wakil negara buatan Belanda ) dalam konfrensi Meja Bundar.

Tapi sayang, sekarang jasa-jasa beliau seakan tak pernah ada.

Pada teks sejarah negara bernama “Indonesia”, namanya ditulis dengan tinta merah, Ia seorang yang tidak nasionalis, Dia pengkhianat bangsa.

Mungkinkah sultan yang sangat mencintai rakyatnya itu ternyata seorang pengkhianat bangsa? Bagaimana mungkin sultan yang sangat mencintai negerinya itu lahirnya bukan seorang nasionalis?

KETERLIBATAN SULTAN HAMID II DENGAN PEMBERONTAKKAN WESTERLING 1950

Apra  Lambang Garuda dan Sejarahnya yang Disamarkan Apra

(Image for: Kudeta APRA)

Alkisah, di tengah hiruk-pikuknya kehidupan kenegaraan, pada tahun 1950 terjadi “Pemberontakan Westerling” di Negara Pasundan (kini Jawa Barat). Peristiwa tersebut menyeret keterlibatan seorang politikus ternama asal Negeri Pontianak-Borneo Barat, bernama Sultan Hamid II yang dituduh sebagai “pemimpin dan/atau pengatur” pemberontakan tersebut.

Tak pelak lagi, Sultan Pontianak terakhir ini pun pada tanggal 5 April 1950 ditangkap. Tuduhan yang dialamatkan kepada Sultan Hamid II, yaitu keterlibatannya dengan pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling di Bandung pada tanggal 23 Januari 1950, serta mempunyai “niatan” untuk menyerbu sidang Dewan Menteri RIS (Republik Indonesia Serikat) yang niat tersebut kemudian beliau batalkan.

Alih-alih tak terdapat sebuah fakta yang membuktikan tuduhan kepadanya di pengadilan, Sultan Hamid II tetap saja divonis bersalah dengan ganjaran hukuman 10 tahun penjara (dipotong masa tahanan 3 tahun).

Biarpun kudeta itu gagal, pada bulan April 1950 penggadilan MA menyatakan Sultan Hamid II telah mendalangi seluruh kejadian tersebut
dengan Westerling bertindak sebagai senjata militernnya sehingga Sultan Hamid II pun dipenjara selama 10 tahun.

Setelah bebas dari hukuman niat membunuh yang tidak jadi dilakukan itu, Sultan Hamid pun dibebaskan.

Namun selang beberapa lama menghirup udara bebas, pada Maret 1962 Ia kembali ditangkap. Penangkapan tersebut juga dilakukan terhadap Sutan Sjahrir, Ide Anak Agung Gde Agung, dan Subadio Sastrosatomo, pun beberapa pemimpin Masyumi (Prawoto Mangkusasmito, Yunan Nasution, Isa Anshary, dan Mohammad Roem) juga ditangkap.

Fitnah dan tuduhan yang ditimpakan kepada para tokoh tersebut yaitu konspirasi untuk melakukan tindakan subversif terhadap negara (para tokoh ini ditangkap dan dihukum penjara tanpa adanya proses pengadilan).

Setelah kejadian inilah, beliau dianggap berkhianat kepada negara dan seakan dihilangkan dari catatan sejarah oleh pemerintahan saat itu.

**

Apabila kita ulas,  dalam kasus Sultan Hamid II ini dapat dilihat bahwa Indonesia sebagai negara yang dengan kepentingan politiknya menghukum seseorang hanya karena niatnya melakukan pembunuhan, yang malahan kemudian niat tersebut dibatalkan.

Adakah lagi negara lain (selain negara ini) yang menghukum niat seseorang (apalagi kemudian niat itu urung dilaksanakan)? Mungkin hanya negara ini yang seperti itu.

Memang benar, pada saat itu Sultan Hamid II menyatakan pernyataan pada pleidooi kasusnya yang dibacakan didepan mahkamah pengadilan, yang berbunyi :

Dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi nusa dan bangsa, timbullah keyakinan saya, bahwa bentuk federalisme itulah yang paling baik bagi negara kita,” – Sultan Hamid II

Barangkali cita-citanya mengenai bentuk negara federal inilah satu-satunya “dosa” dirinya di negara yang katanya ber-Bhineka Tunggal Ika ini, karena memang kesalahan lainnya yang dituduhkan kepadanya nyata-nyata tak terbukti di pengadilan.

Sedangkan di sisi lain, penafsiran absolut dari kebhinekaan tersebut adalah persatuan (federalism), bukan kesatuan (unitarism).

Dengan mengusung cita-cita mulia tersebut, segenap jiwa dan raga telah diabdikannya kepada negerinya tercinta. Karena cita-citanya yang mulia itu pula dirinya kemudian dinistakan oleh negara.

Pantaskah?

Akhirnya pun, setelah berpuluh-puluh tahun semenjak kematian beliau pada tahun 1978, tepatnya pada tahun 2012 kemarin, Anshari Dimyati, mahasiswa Magister Hukum Universitas Indonesia menentang putusan yang telah dijatuhkan kepada Sultan Hamid II lewat tesisnya yang berjudul “Delik Terhadap Keamanan Negara (Makar)  di Indonesia; Suatu Analisis Yuridis Normatif pada Studi Kasus Sultan Hamid II” (yang juga menjadi sumber dan inspirasi dibuatnya artikel ini).

Anshari menegaskan bahwa memang Sultan Hamid II memiliki niat untuk melakukan pembunuhan terhadap 3 Menteri RIS, tapi Ia tidak jadi melakukannya.

Anshari juga menemukan apabila Sultan Hamid II bukan orang yang memotori penyerangan Westerling. Dan peradilan pada waktu itu terpengaruhi oleh politik serta opini media massa yang memberitakan kasus ini.

Terlepas dari bersalah atau tidaknya Sultan Hamid II, beliau tetap telah berjasa besar dalam menciptakan, yang bukan main main, Lambang negara  Republik Indoesia.

 

Terima kasih, dan semoga di alam yang lain Engkau tidak pula terabaikan.” – Revoluside

 

 

Referensi, material gambar, dll :

About the author

Anggi T Nugraha

Passion and smile addict

Leave a Comment