Youthack

Kemandirian Energi Indonesia

Ya sebuah topik yang terdengar agak berat, namun mulai dapat dipahami ketika ketiga dosen mencoba menjelaskan sendiri-sendiri (secara terpisah) namun sangat berkaitan mengenai apa itu yang dimaksud kemandirian energi.

Selepas sarapan pagi, ada 3 dosen yang mewakili masing-masing prodi yaitu Pak Ucok dosen Teknik Perminyakan, Pak Satria dosen Teknik Geofisika dan Pak Irwin dari Teknik Pertambangan. Merekalah yang menjadi inspirasi ditulisnya artikel yang kali ini di publish di Revoluside kali ini.

image kemandirian energi indonesia Kemandirian Energi Indonesia wpid pertamina akuisisi 121210b

(Image for: Pertamina)

Kemandirian Energi dari Segi GDP(Gross Domestic Product)

Kemandirian energi dari segi GDP(Gross Domestic Product) dijelaskan dengan gamblang oleh Pak Ucok . Beliau mencoba membandingkan nilai export dan nilai import Indonesia pada sektor migas. Kesimpulannya pun mencengangkan!

“Petroleum is no longer prima donna” begitu kutipnya.

Hal ini jelas bertolak belakang dengan anggapan orang banyak mengenai kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bumi pertiwi. Bahkan faktanya, Indonesia pernah menjadi salah satu anggota organisasi produsen minyak mentah dunia yaitu OPEC.

Berdasarkan data dari BP Statistical Review (2013), Indonesia pernah berhasil memproduksi minyak mentah di atas 1 juta barrel per day (BPD) selama periode 1972 s. d. 2006 dengan pencapaian tertinggi tahun 1977 dengan produksi 1,68 juta BPD.

Bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya, produksi minyak mentah Indonesia juga masih dapat dikategorikan lebih dari cukup. BP Statistical Review (2013) mencatat bahwa Indonesia mampu memproduksi minyak mentah sekitar 44,6 juta ton pada tahun 2012, dan menempati posisi ke-24 sebagai negara produsen minyak mentah terbesar dari 53 negara di dunia.

Sedangkan di Asia Pasifik, Indonesia menempati posisi ke-2 terbesar setelah China yang mencapai 207,5 juta ton.

Berikut ditampilkan grafik Negara-Negara Produsen Minyak Mentah Terbesar Dunia  yang diambil dari website resmi http://www.kemenkeu.go.id/ mengenai potret kinerja migas yang ditulis oleh Mohamad Nasir. (Diakses 7 Mei 2015)

grafik minyak sabrut kemandirian energi indonesia Kemandirian Energi Indonesia grafik minyak sabrut1

(Image for: Produsen Minyak)

Jika memang begitu kenyataannya, lalu kenapa Pak Ucok mengatakan hal yang berkebalikan?

Masih menggunakan data yang sama (BP Statistical Review), kita sadari bahwa kekayaan migas di Indonesia yang menjadi kebanggaan mulai sekarang hanya tinggal cerita.

Faktanya, produksi migas dalam negeri sudah menurun drastis pada tahun 2014. Bahkan grafik sudah menunjukan angka minus.

Menurut Pak Ucok, hal ini berarti Indonesia benar-benar sudah tak mampu memproduksi migas dan hanya mengandalkan impor saja.

Perlu disadari pula bahwa catatan pencapaian di atas adalah catatan masa lalu atau dapat dikatakan sejarah bagi Indonesia. Kini, produksi minyak mentah Indonesia semakin menurun.

grafik minyak sabrut kemandirian energi indonesia Kemandirian Energi Indonesia grafik minyak sabrut

(Image for: BP Statistical)

Seperti yang bisa dilihat pada grafik, dalam beberapa tahun terakhir, dari tahun 2007 s. d. 2012, produksi minyak mentah Indonesia di kisaran 900 ribu BPD (BP, 2013). Penurunan ini merupakan suatu kenyataan yang harus dihadapi Indonesia bahwa minyak merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui semakin lama produksinya akan semakin menurun dan pada akhirnya suatu saat nanti akan habis.

Tidak hanya itu, dari total produksi minyak mentah yang dihasilkan, tidak keseluruhannya adalah milik Pemerintah. Pemerintah harus berbagi dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) dengan pola bagi hasil 85% untuk pemerintah dan 15% untuk K3S.

Belum lagi, hasil produksi pun harus terlebih dahulu digunakan sebagai pengganti biaya eksplorasi yang dikeluarkan oleh K3S atau cost recovery. Dari sini bisa kita ambil kesimpulannya bahwa, yang menjadi hak Pemerintah atas produksi minyak mentah adalah di bawah angka produksi tersebut.

Dengan demikian, sudah dapat dipastikan pernyataan yang disampaikan oleh Pak Ucok sudah benar-benar relevan.

=

Shale Oil, Kerja Keras, Ketelitian, dan Ketekunan

Apa itu shale oil?

Singkatnya, shale oil merupakan salah satu biang keladi yang membuat harga minyak dunia yang belum lama ini turun drastis. Mungkin kita semua bertanya-tanya kenapa dengan seenaknya pemerintah menaik turunkan harga minyak.

Rakyat pun merasa dipermainkan dan tidak sedikit yang berdalih ini merupakan kebusukan pemerintah yang sedang merencanakan korupsi. Berbagai elemen masyarakat pun serentak mengadakan demonstrasi. Ratusan mahasiswa menggelar protes di jalan-jalan raya menuntut hak dan suaranya didengar karena ini negeri demokrasi. Suara rakyat lah yang memegang kendali tertinggi.

Lalu apa? Apakah pemerintah mendengar suara mereka?

Secara kasat mata, kita melihat bahwa pemerintah tidak sedikitpun menggubris fenomena ini. Namun tahukah anda bahwa pemerintah betul-betul mendengar suara para demonstran dalam mempraktekkan demokrasinya?

Yang tidak terlihat bukan berarti tidak terjadi, bukan? Pemrintah nyatanya sudah paham betul mengenai sistem dan teori ekonomi dari A sampai Z. Kenaikan dan penurunan harga diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Pemerintah melihat bahwa jika terlalu turun tangan, maka sistem ekonomi kita semakin mendekat pada sistem otoriter yang mana menjauh dari demokrasi itu sendiri.

Kembali ke masalah shale oil. Secara geologi, shale oil adalah minyak yang terkandung dalam sejenis bebatuan lunak. Minyak dalam bebatuan ini diekstrak dengan proses pemanasan atau teknik-tenik lain seperti fracking. Sederhananya, shale oil merupakan bahan bakar melimpah yang baru-baru ini bisa diolah menjadi bahan bakar siap pakai.

Dengan ditemukannya cadangan shale oil yang melimpah di AS serta keberhasilan Amerika dalam pemanfaatannya, dapatlah dipastikan AS memiliki cadangan minyak untuk memenuhi kebutuhannya selama ratusan tahun ke depan.

Karena kandungan shale oil yang melimpah, pemerintah Amerika Serikat pun tak ragu untuk menjual shale oil ke pasaran dengan harga yang relatif murah. Dengan kisaran US$ 50 per barel, jelas itu menggoncang harga minyak bumi di timur tengah yang menjual harga minyak dua kali lipat dari harga shale oil.

Negara kaya minyak pun tak ingin penjualan dan pemasukan mereka menurun. Akibatnya, dengan terpaksa mereka pun menurunkan harga minyak dikisaran US$50 – US$60. Dengan begini, sudah jelas kiranya harga minyak di Indonesia pun ikut menurun.

Pak Satria Bijaksana, lulusan geophysics dari sebuah universitas ternama di Kanada ini memiliki cerita menarik terkait penemuan shale oil di amerika.

It’s Magic!” Jelas beliau mantap.

Beliau mengatakan, survey shale oil and gas di Kanada ternyata sudah dimulai tahun 1970!

wpid-gazprom-is-getting-ready-to-ship-the-first-oil-cargo-from-its-oil-platform-moored-in-the-freezing-waters-of-the-pechora-sea.-1.jpg.jpeg kemandirian energi indonesia Kemandirian Energi Indonesia wpid gazprom is getting ready to ship the first oil cargo from its oil platform moored in the freezing waters of the pechora sea 1 jpg

(Image for: Shale Oil Research)

Pada saat itu mereka melakukan ekplorasi pertama di tengah gletser dan bongkahan-bongkahan es, lalu dilanjut tahun 1990an. Kesimpulan dari survey, shale oil ini hanya ekonomis jika harga conventional oil(migas) diatas 80$/barrel, sementara saat itu harga migas hanya (20$/barrel).

Jadi apa yang Kanada lakukan? Ya mereka tetap melanjutkan penelitian dan terbukti saat ini harga migas pernah mencapai 120$/barrel dan produksi shale oil Kanada mendapat keuntungan besar!

Tak hanya itu, beliau mencontohkan lagi perusahaan rig (platform) super canggih yang di produksi Jerman. Kenapa Jerman, punya ladang minyak saja tidak?

Ya ini lah keunggulan mereka, Jerman tau untuk mencapai suatu kemandirian energi tidak lah harus memiliki sumber daya nya tapi bisa dengan menjual teknologi nya!

Dari sini dapat kita lihat bahwa, cntoh-contoh diatas jelas menampar. Seandainya Indonesia memiliki strategi jitu dalam mengolah energi seperti yang dilakukan negara barat, bukan tidak mungkin negeri ini berkuasa dan diperhitungkan kesejahteraannya mengingat sumber daya yang tadinya begitu melimpah. Kemandirian energi bukan hal mustahil untuk dicapai.

=

Batu Bara, Apakah Ini Kesempatan Kita?

Pak Irwin dari Teknik Pertambangan menjelaskan mengenai Kemandirian Energi dari segi Batubara(coal) . Batubara terdapat banyak Indonesia, pusatnya di Sumatera dan Kalimantan.

Namun meskipun begitu ternyata cadangan Indonesia bukan lah yang terbesar di dunia. Berdasarkan data yang dimiliki beliau, Indonesia hanya memiliki 0,6% cadangan dunia (yang terbesar di Amerika, Rusia, Cina)

Lagi-lagi, sama dengan pernyataan dosen lain, Pak irwin beranggapan bahwa pepatah “Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya” menurutnya tidak tepat.

Lalu apa masalah di sektor batubara? Ya walaupun produksi dalam negeri naik namun ekspor mengalami penurunan karena harga batubara dunia turun. Faktornya antara lain :

—–1. Shale oil and gas

—–2. Ekonomi dunia

—–3. Kebutuhan batubara china

Belum lagi mengenai UU Minerba no 4 tahun 2009 mengenai kewajiban perusahaan tambang untuk mengolah hasil tambang nya dan tidak menjual nya dalam bentuk konsentrat (mentahan) memberatkan perusahaan dan mengakibatkan banyak perusahaan yang gulung tikar.

Padahal dalam sekali proyek tambang bisa menyerap 4500 pekerja. Nah ini yang menyebabkan sektor lain juga agak lesu.

Namun di sektor batubara beliau masih optimis karena cadangan Indonesia masih banyak ,dan produksi yang masih kontinu hingga saat ini (dengan asumsi harga batubara akan kembali naik).

Sekarang, tinggal bagaimana Indonesia mengolah Energi tersebut sebaik mungkin sebelum akhirnya Energi yang ada terkikis habis. Inovasi sangat dibutuhkan, bantuan pemerintah mutlak diharuskan.

=

=

—-Lihat juga:

——-Mengkritisi BEM SI: Menolak Pengembalian Subsidi BBM

 

=

 

Sumber :

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150115094353-85-24794/rendahnya-harga-minyak-dunia-diprediksi-berlangsung-lama/

http://www.kaskus.co.id/thread/548a4ca360e24bfa608b4575/shale-oil-bikin-minyak-arab-harganya-makin-turun

https://rovicky.wordpress.com/2014/09/10/mengapa-shale-gas-di-indonesia-sulit-berkembang/

http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Potret%20Kinerja%20Migas%20Indonesia.pdf

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2015/01/08/amerika-terkaya-berkat-shale-oil-715451.html

https://kastratfebui.wordpress.com/2015/04/28/siapkah-indonesia-untuk-demokrasi/

About the author

Rizky Zulkarnaen

Speaker, Writer, Engineer

Leave a Comment