Knowledge Youthack

Hilang Mood Saat Hujan Datang? Ini Sebab dan Dampaknya!

Katak bernyanyi, beruang hibernasi.
Katak berpasangan. Beruang hangat. Hujan makin deras. Aku kedinginan. Ya, sudahlah.”

– Mr. Sonjaya

Seperti yang kita tahu, sejak Desember 2015 hingga sekarang musim hujan di Indonesia belum juga berakhir. Fakta menunjukkan bahwa musim hujan yang panjang ini telah menimbulkan banyak dampak yang merugikan. Pohon tumbang, banjir bandang, tanah longsor, tanggul jebol, serta kerusakan infrastruktur lainnya sudah menjadi suguhan harian di berbagai media massa.

Mengapa durasi musim hujan di Indonesia terjadi berangsur lama?

Jawabannya tentu tidak singkat. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, mulai dari letak geografis, luas wilayah laut, intensitas matahari, arah angin, tekanan udara, suhu, kelembaban, dll yang menjadikan Indonesia sebagai wilayah tropis dengan curah hujan yang tinggi.

Namun sayangnya, tulisan ini tidak akan berbicara ke arah sana. Dalam artikel ini Revoluside tidak dulu menganalisis apa saja penyebab hujan panjang di negara kita dan keterkaitannya dengan dampak fisik yang sering terjadi. Tapi, Revoluside mencoba membawa kamu pada sudut pandang yang berbeda bahwa ternyata ada juga lho kerugian non-fisik yang disebabkan oleh musim hujan yang berkepanjangan ini.

Kerugian non-fisik?

Selain menyebabkan kerugian-kerugian fisik seperti yang telah Revoluside singgung di atas, musim hujan ternyata menimbulkan kerugian lain yang tidak terlihat secara kasat mata. Kerugian mental.

Hal ini menjadi bahasan krusial melihat perubahan pola perilaku masyarakat yang dipengaruhi oleh musim hujan. Mengapa krusial? Karena sebenarnya kerugian ini timbul dari dalam diri kita sendiri. Artinya, masih memungkinkan untuk dikendalikan sendiri. Sehingga harapan Revoluside, setelah membaca artikel ini kamu bisa menghindari atau setidaknya meminimalisir agar kerugian mental ini tidak terjadi menimpa kamu.

SAD (Seasonal Affective Disorder)

“Nothing to do but frown. Rainy days and Mondays always get me down.” – The Carpenters

Seperti pada lirik lagu The Carpenters di atas. Faktanya, hujan ternyata memang berdampak terhadap gangguan perasaan (mood disorder). Gangguan perasaan yang terjadi pada pergantian musim-musim tertentu ini disebut Seasonal Affective Disorder (SAD). Istilah ini digunakan pertama kali oleh Profesor Norman Rosenthal dalam paper hasil penelitiannya pada tahun 1984 yang dikontribusikan untuk Witness Seminar1.

SAD sering terjadi di negara-negara yang mempunyai 4 musim. Di Amerika, SAD lebih dikenal dengan sebutan Winter Blues atau Winter Depression karena gejalanya lebih cenderung terjadi pada saat musim salju. Mengapa musim salju?

Hal tersebut dikarenakan kurangnya sinar matahari yang menjadi pemicu utama terjadinya SAD. Pada saat musim salju, intensitas cahaya matahari berkurang. Ini menyebabkan siang hari lebih pendek daripada malam hari di negara-negara 4 musim.

Selain musim salju, beberapa gejala SAD juga terjadi pada musim-musim lain seperti musim gugur dan musim hujan. Penyebab utamanya pun sama dikarenakan pada musim tersebut durasi penyinaran matahari tidak berlangsung sepanjang hari.

Artinya, sebuah konsekuensi yang logis apabila gangguan SAD ini juga berpeluang besar untuk terjadi pada musim hujan di negara kita. Di mana kita sering menemukan kondisi langit yang mendung pada siang hari kemudian disusul oleh curah hujan yang besar dengan durasi yang lama.

Pengaruh kurangnya intensitas cahaya terhadap gangguan perasaan ini telah dijelaskan secara biologis oleh Dr. Daren Cotterell  dalam jurnalnya yang berjudul : Pathogenesis and Management of Seasonal Affective Disorder.

Didalam jurnalnya Cotterell mengatakan, “SAD shares symptoms of low mood, loss of interest, anhedonia, anxiety, low libido, low motivation and social, self-isolation with the affective disorders, with a similar impact on social functioning.” (hlm. 18)

Berangkat dari hal tersebut, secara tidak langsung SAD berdampak pada aktivitas manusia yang berpotensi besar membawa dampak buruk terhadap tingkat produktivitas, diantaranya :

#1 Hujan Dijadikan Alasan Batal Pergi

cute-outside-quote-rain-raining-favim-com-345929 hujan dan mood disorder Hilang Mood Saat Hujan Datang? Ini Sebab dan Dampaknya! cute outside quote rain raining Favim

Berapa banyak acara penting yang wajib kamu hadiri tapi akhirnya kamu lewatkan dengan beralasan hujan?

Apakah kamu menyesal atau malah senang melewatkan acara tersebut?

Jika jawabanmu menyesal, artinya kamu memang tidak mengharapkan datangnya hujan dan tidak menjadikannya sebagai alasan belaka. Sebaliknya, jika jawabanmu senang, artinya kamu memang sangat mengharapkan hujan dan menjadikannya sebagai alat untuk keluar dari suatu permasalahan.

Ini banyak terjadi misalnya ketika akan menghadiri kerja kelompok, rapat formal, dan kegiatan yang kerap dianggap menjenuhkan lainnya. Padahal kegiatan tersebut adalah kegiatan positif yang manfaatnya tidak akan kamu dapat dengan hanya berdiam diri di kamar.

Melihat hujan yang kini setiap hari datang, plan hujan harus dipersiapkan agar kita selalu siap siaga. Sehingga hujan tidak lagi dijadikan alasan.

Hujan adalah takdir yang masih bisa disiasati. Bukankah manusia juga yang menciptakan payung dan mantel hujan?

#2 Penyakit “Mager” dan “Baper” Mewabah di Sepanjang Musim Hujan

bad-weather-post hujan dan mood disorder Hilang Mood Saat Hujan Datang? Ini Sebab dan Dampaknya! bad weather post

(sumber: http://www.cyberalert.com)

Gambar di atas merupakan diagram hasil analisis yang dilakukan oleh fanpagekarma mengenai penggunaan media sosial Facebook oleh netizen pada saat cuaca buruk.

Gambar tersebut menyimpulkan bahwa orang-orang lebih sering menggunakan waktunya untuk berselancar di dunia maya ketika hujan turun. Orang-orang hanya perlu kuota, smartphone atau laptopnya untuk melakukan hal semacam ini. Terpaku pada layar dan tetap lincah menggerakkan jari-jemarinya. Di sinilah letak mewabahnya penyakit “Mager” (baca: malas bergerak).

Sebetulnya tidak menjadi masalah selama bahan postingannya memuat nilai positif. Menghasilkan karya misalnya. Tapi hal ini jarang sekali terjadi. Lantas bagaimana jika kebanyakan dari beberapa postingan justru memuat nilai negatif? Ini baru masalah.

Situs boome.co telah lebih dahulu melakukan penelitian atas ini. Boome melakukan analisis terhadap beberapa postingan negatif di Twitter sepanjang musim hujan. Terdapat unsur “galau” atau kekinian orang menyebutnya “baper” dalam postingan-postingan tersebut.

Berdasarkan penjaringan yang dilakukan Boomee dari 1 September s.d. 26 Oktober 2016 dengan kata kunci “hujan” dan “galau”, terdapat 513.404 percakapan yang berhasil terkumpul. Dari hasil pengumpulan data tersebut, Boomee menemukan bahwa puncak kegalauan terjadi pada tanggal 23 Oktober silam. Pada saat itu terjadi hujan dengan curah hujan yang sedang. Detail penyajian datanya terdapat dalam grafik berikut ini :

galau-twitter hujan dan mood disorder Hilang Mood Saat Hujan Datang? Ini Sebab dan Dampaknya! galau twitter

Sementara itu masih dengan data yang sama, Boome juga memunculkan waktu yang berpotensi menimbulkan postingan galau di Twitter. Dan hasilnya grafik menunjukkan bahwa terjadi kenaikan postingan galau mulai pukul 14.00 s.d 21.00 yang mana telah kita ketahui pula bahwa hujan sering terjadi pada rentang waktu tersebut.

twitter-galau hujan dan mood disorder Hilang Mood Saat Hujan Datang? Ini Sebab dan Dampaknya! twitter galau

Seperti data yang ditunjukan pada grafik diatas, postingan-postingan galau ini kebanyakan berisi keluh kesah yang tidak bermanfaat. Boome juga telah membuktikannya dengan menghadirkan isi cuitan para netizen di Twitter. Sehingga kesimpulannya, data-data yang telah disajikan diatas sudah cukup membuktikan bahwa benar wabah penyakit “Mager” dan “Baper” terjadi pada kebanyakan orang di sepanjang musim hujan.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, sampai kapan kita terus bersepakat dengan dampak tersebut? Sementara BMKG mengatakan bahwa puncak musim hujan akan terus berlangsung hingga Februari 20172 . Bahkan, sudah memasuki pertengahan Februari musim hujan belum juga usai. Apakah kita akan seperti ini terus?

SAD bisa kita lawan!

“Hujan memang tak menyelesaikan persoalan. Tapi persoalan harus tetap selesai dengan atau tanpa hadirnya hujan.”

Masih ingatkah kamu dengan acara Lalala Fest 5 November 2016 silam?

lalala-fest-2 hujan dan mood disorder Hilang Mood Saat Hujan Datang? Ini Sebab dan Dampaknya! lalala fest 2

(foto Lalala Fest Bandung 2016, http://lockerradio.com)

See? Beribu-ribu pengunjung tidak peduli akan hujan dan lumpur demi menyaksikan penampilan grup band kelas internasional Kodaline.

So here is the thing :

We are who truly know who we are. We are who only know how to manage ourself. Brain suggestion. It’s all that matters.

Kita bukan beruang seperti pada lagu Mr. Sonjaya kan?


Sebuah grup diskusi skala besar yang mengutamakan pentingnya pencatatan saksi mata (kesaksian komunal). Pembahasan difokuskan pada intervensi medis dari semua jenis, bersama dengan dampaknya terhadap pasien dan masyarakat yang lebih meluas. Transkrip Witness Seminar dapat diunduh disini.

2 Informasi diakses di http://news.detik.com/berita/d-3344264/bmkg-waspada-puncak-musim-hujan-di-indonesia-awal-2017

Referensi:

Stuart L. Kurlansik, Annamarie D. Ibay. 2012. Seasonal Affective Disorder. Am Fam Physician.

Darren Cotterell. Pathogenesis and management of seasonal affective disorder. Progress in Neurology and Psychiatry, Volume 14, Issue 5. Version of Record online.

Marion Bernstein. 6 Scientific Ways Weather Affects Your Mood, So You Can Adapt Your Mind And Body Through The Changing Seasons. 29 September 2015. <https://www.bustle.com/articles/113278-6-scientific-ways-weather-affects-your-mood-so-you-can-adapt-your-mind-and-body-through> [diakses 15 November 2016]

Riwis. Ini Bukti Jika Hujan Membawa Kegalauan ke Linimasa Twitter. 3 November 2016. <http://boomee.co/life-style/ini-bukti-jika-hujan-membawa-kegalauan-ke-linimasa-twitter/> [diakses 15 November 2016]

William Comcowich. Study: Social Media Interaction Increases on Rainy/Snowy Days. 27 Desember 2016. <http://www.cyberalert.com/blog/index.php/study-social-media-interaction-increases-on-rainysnowy-days/> [diakses 15 November 2016]

About the author

ojustinee

Sedang mengambil peminatan BIPA di bangku kuliah. Bercita-cita menjadi ibu guru gaul yang galak, punya body macem Gigi Hadid, dan suami serupa Andrew Garfield. Cheers!

Leave a Comment