Youthack

Dua Kesalahan Berbahasa Ini Sering Banget Kamu Lakukan!

Kamu tahu nggak, berapa jumlah pengguna Bahasa Indonesia sampai tahun 2016?

Dilansir dari situs jpnn.com, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Effendy, pengguna Bahasa Indonesia saat ini sudah di atas angka 360 juta, lho! Wow. Kaget nggak? Kita sih enggak. Soalnya nih, Bahasa Indonesia nggak cuma dipakai di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lainnya. Bahkan di negara Mesir sudah ada Pusat Studi Bahasa Indonesia, tepatnya berada di Suez Canal University. Sekali lagi, wow!

Nah, sebagai warga asli Indonesia, tentunya kita sudah menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Tapi, bukan berarti berbahasa yang baik itu gampang, lho. Buktinya, dua kesalahan berbahasa ini masih sering kamu lakukan. Apa aja tuh?

 

Dua Kesalahan Berbahasa Ini Sering Banget Kamu Lakukan! Dipisah disambung 1

Hayo…yang mana yang bener?

Ini adalah salah satu kesalahan yang paling sering kita temukan di mana-mana. Ternyata masih banyak lho yang belum bisa membedakan kapan harus menggunakan “di” dengan disambung atau dipisah. Bagaimana cara membedakannya?

Ada dua jenis pemakaian “di” pada Bahasa Indonesia. Pertama adalah di- sebagai imbuhan atau awalan. Fungsi dari imbuhan ini adalah untuk membentuk kata kerja pasif. Untuk membentuk kata kerja pasif tersebut, imbuhan di- harus diletakkan di depan kata kerja atau kata benda yang diperlakukan sebagai kata kerja. Penulisan kata kerja pasif menggunakan imbuhan di- harus disambung. Contohnya adalah:

  • Surat itu ditulis dengan penuh cinta.
  • Pesta ulang tahun Dinda dirayakan dengan meriah.

Atau

  • Nenek dimakamkan pagi ini.

Untuk kalimat terakhir, kata dasar dari dimakamkan adalah makam, yang sebenarnya merupakan kata benda. Namun, jika diberi imbuhan di- dan -kan­, maka kata tersebut berubah menjadi kata kerja dimakamkan yang berarti ‘ditempatkan di dalam makam’. Kata inilah yang dimaksud sebagai “kata benda yang diperlakukan sebagai kata kerja”.

Nah, pemakaian di yang kedua adalah sebagai kata depan. Kata depan adalah kata yang digunakan untuk menghubungkan kata benda dengan bagian pada kalimat. Salah satu jenis kata depan adalah di, yang digunakan untuk menandakan keberadaan atau posisi suatu objek. Jadi, biasanya kata depan di diikuti dengan kata benda yang menunjukkan tempat, seperti rumah, taman, dan lain-lain. Penulisan di sebagai kata depan harus dipisah dengan kata benda yang mengikutinya. Coba simak contoh di bawah ini:

  • Adik bermain bola di taman.
  • Ibu sedang memasak di dapur.

Kata di taman dan di dapur pada kalimat di atas berfungsi sebagai keterangan tempat dalam kalimat.

Masih bingung? Pahami saja prinsip ini

“Jika diikuti kata kerja atau kata benda yang diperlakukan sebagai kata kerja, maka penulisannya harus disambung. Namun jika diikuti dengan kata benda atau keterangan tempat, maka penulisannya harus dipisah

 

Kalau sudah paham, yuk, kita lihat kesalahan selajutnya yang sering kita lakukan dalam berbahasa Indonesia!

Dua Kesalahan Berbahasa Ini Sering Banget Kamu Lakukan! confused fox by handyfox345 d6csqdc 1

Eh… gimana, gimana?

 

“Kita harus merubah kebiasaan buruk negeri ini!”

“Pola pikir bangsa ini harus dirubah agar bangsa semakin maju!”

Eiiittss! Keren nih, seruannya. Siapa sih yang nggak pengen bangsa kita maju?

Tapiii…, coba lihat dulu deh, kalimatnya sudah tepat belum? Atau masih ada kata-kata yang rancu?

Jawabannya: masih!

Kata merubah dan kata dirubah adalah dua kata yang pemakaiannya masih sering disalahgunakan dalam penulisan literatur, baik ilmiah maupun non-ilmiah. Pengertian yang dimaksud dengan merubah dalam tulisan-tulisan tersebut adalah ‘menjadikan (sesuatu) lain dari dari semula’. Demikian pula dengan kata dirubah yang sering digunakan sebagai bentuk pasif dari kata merubah.

Padahal…, kata tersebut sebenarnya mempunyai arti lain. Merubah berasal dari kata dasar rubah—hewan karnivora berkaki empat, berjenis anjing dan memiliki moncong yang panjang—yang kemudian diberi imbuhan atau awalan me-. Nah, imbuhan me- sendiri memiliki fungsi yang bermacam-macam, salah satunya adalah fungsi ’menjadikan’.

Jadi…, kata merubah dapat diartikan sebagai ‘menjadi seperti rubah’ atau ‘menyerupai rubah’. Secara nggak langsung, kata dirubah juga diartikan sebagai ‘dijadikan seperti rubah’. Nah lho?!

Yep, ternyata masih banyak yang keliru menggunakan kata merubah. Padahal kata yang tepat adalah mengubah. Kata mengubah berasal dari kata dasar ubah yang berarti ‘bertukar/beralih/berganti menjadi sesuatu yang lain’. Begitu pula dengan kata dirubah yang seharusnya ditulis diubah.

Kemungkinan besar, kesalahan tersebut dilakukan karena muncul variasi lain dari kata ubah yaitu berubah dan perubahan. Kedua kata tersebut membelokkan pemahaman kita dan akhirnya menimbulkan kata merubah dan dirubah, karena berubah dianggap memiliki kata dasar rubah yang diberi imbuhan be-. Sebenarnya, imbuhan yang digunakan pada kata berubah dan perubahan adalah imbuhan ber- dan per-an. Jadi kata dasarnya tetaplah ubah dan bukan rubah.

Ah, ribet banget sih pake dibeda-bedain segala, yang penting kan ngerti maksudnya!

Betul, sekilas sih rasanya bukan masalah apabila sebuah kata benar atau salah, yang penting kita mengerti apa yang dimaksud oleh penulis/penutur bahasa. Akan tetapi, kesalahan seperti itu sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Kenapa? Karena penggunaan Bahasa Indonesia sudah diatur sedemikian rupa dalam Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), yaitu sebuah pedoman untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Lagipula, memperbaiki dua kesalahan di atas perlu dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam berbahasa. Karena tidak semua orang langsung mengerti atau memiliki pemahaman yang sama denganmu, kan?

Jadi, yuk, mulai berbahasa Indonesia dengan baik!

About the author

Rizky Zulkarnaen

Speaker, Writer, Engineer

Leave a Comment