Speak

Dilematika Anak Jaman Sekarang

images  Dilematika Anak Jaman Sekarang images

Generasi bahagia itu, generasi kelahiran 1970 – 1996. Dan itu adalah kami.” – Aditya Rizki PP

Sekiranya, seminggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 23 Juli, sebagian dari kita banyak yang telah memperingati bahkan merayakan Hari Anak Nasional. Sebuah peringatan yang cukup penting, karena menurut Revoluside, Hari Anak Nasional dapat menjadi reminder bagi generasi anak jaman sekarang agar tetap menjadi layaknya seorang anak.

Seorang anak kecil yang bermain di halaman yang luas. Berlari dan bersembunyi penuh canda tawa dan persahabatan. Main petak umpet, gobak sodor, benteng, lompat tali, main kelereng, masak-masakan, sobyong, jamuran, berebut mengejar layangan putus? Seorang anak kecil yang mampu memanfaatkan gelang karet, isi sawo, kulit jeruk, baterai bekas, sogok gelik menjadi permainan yang mengasyikkan.

Seorang anak kecil yang tiap melihat pesawat terbang, langsung berteriak minta uang. Seorang anak kecil yang.. Dulu.

Ya. Seorang anak kecil. Masih ada kah?

93321_hari-anak-nasional_663_382  Dilematika Anak Jaman Sekarang 93321 hari anak nasional 663 382

**

“Pah, lebaran nanti beliin aku ipad dong, biar bisa main game,” bujuk Munir manja.

“Gak ah, Papah gak punya uang,” Ayah menolak.

“Yaah Pah, aku kan pengen kayak mereka juga, pada main ipad semua,” kata Munir sambil menunjuk ke arah teman-temannya di teras sebelah.

“Sayang, coba kamu perhatiin. Mereka berkumpul tapi pada diem-dieman. Asyik sendiri-sendiri,” Ayah mencoba memberi pengertian.

“Yaiyalah, kan gamenya seru-seru Pah,” ucap Munir  tidak mau kalah.

“Tapi kan gak baik kalo gitu, coba kamu bandingin sama anak-anak kampung di seberang sana,” ucap Ayah sambil menuntun Munir ke luar rumah.

“Emang kenapa sama mereka?” Munir bingung.

“Mereka bermain dan tertawa bersama. Bukannya lebih seru kalo gitu? Sekalian olahraga juga kan?” Tanya Ayah kepada Munir.

“Iya sih Pah, kata Bu Guru juga kalo sering-sering main gadget, nanti matanya rusak,” Munir menjawab sambil mengucek mata kecilnya.

“Nah, itu kamu pinter. Anak siapa sih?”

“Anak Si Mbok, dong!”

(seketika hening)

…………………………………………….

Apabila kita perhatikan, alangkah memprihatinkan melihat banyak anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di depan gadget ataupun komputer.

Apakah mereka tidak tahu bahwa seusia itu seharusnya dipakai untuk bermain, bercengkerama, dan bercanda dengan teman-teman secara langsung, bukan virtual?

Perkembangan zaman memang tidak terduga. Permainan-permainan tradisional sudah tidak lagi digandrungi. Anak-anak zaman sekarang lebih memilih gadget dan komputer untuk bermain karena berbagai alasan.

Sekarang mau main mainan kampung juga bisa di gadget, tinggal download, praktis dan gak capek,

Padahal jelas, penelitian membuktikan bahwa dengan masa kecil diisi dengan bermain permainan tradisional, anak akan tertanam dan terlatih untuk kuat, bekerja secara teamwork, dan berjiwa sosial. Berbanding terbalik dengan anak yang hanya diam di rumah dengan gadget/komputernya saja, mereka cenderung akan individualis dan malas.

Dilematika perkembangan anak zaman sekarang. Siapa yang harus disalahkan?

Dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget dalam Hetherington & Parke (1975), menjelaskan bahwa anak :

  1. Beradaptasi dengan dan mengiterprestasikan obyek dan kejadian-kejadian di sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri – ciri dan fungsi dari objek – objek, seperti mainan, perabot dan makanan, serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua, dan teman.
  2. Mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek atau peristiwa-peristiwa, dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut.
  3. Anak memainkan peran aktif di dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi walaupun proses berfikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasikan oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga berperan aktif dalam menginterprestasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punya.

Dari teori psikologi anak di atas, dapat disimpulkan bahwa anak yang terlihat diam dan pasif terhadap segala sesuatu di sekitarnya, sesungguhnya mereka mencerna informasi sedetail mungkin.

Mengkolaborasikan pengalaman dan external influence dalam menyimpulkan suatu informasi.

Sebagai contoh implikasinya, ialah pada potongan percakapan di atas. Seorang anak yang cemburu material pada teman-teman kompleknya, sekaligus cemburu sosial pada anak-anak kampung di sisi lainnya.

Pada kasus-kasus seperti ini, external influece berupa lingkungan lebih berpengaruh terhadap kepribadian anak dibanding keluarga.

Mengapa?

Kembali ke kodrat bahwa pembentuk pondasi kepribadian anak yaitu keluarga, bukan lingkungan.

Namun nyatanya banyak keluarga yang tidak bisa diharapkan. Dengan berbagai argumen, mereka seakan melepas tanggung jawab itu kepada lingkungan. Mereka sendiri hanya sibuk bekerja dan mengumpulkan harta. Lupa dengan kewajibannya mengasuh anaknya sendiri.

Berangkat pagi pulang malam setiap hari, tak ada waktu untuk anak.

Padahal lingkungan pun tidak selalu dapat diandalkan. Banyak anak yang menjadi baik karena lingkungan, namun banyak juga yang sebaliknya. Lihat saja fenomena di jalanan, kolong jembatan, dan bantaran sungai.

Entah siapa yang pasti harus disalahkan. Orang tua yang acuhkah? Lingkungan yang kacau? Modernisasi kah? Atau bahkan dampak akumulatif?

Semua tergantung pada kasusnya. Tapi yang jelas, semua pihak yang terlibat pada perkembangan kepribadian anak harus bertanggung jawab pada setiap perannya.

Bukan bermaksud anti modernisasi dan ortodoks, tapi Revoluside menilai alangkah baiknya jika anak-anak pada zaman ini hanya mengambil sisi positif dari sebuah modernisasi.

Jangan pernah melupakan peran real society dibanding virtual society. Siapa yang tidak mau punya anak se’tangguh’ anak dulu tapi se’melek’ anak sekarang?

Bukankan seimbang itu selalu lebih baik?

About the author

Muhammad Hibban

Diploma Komunikasi Institut Pertanian Bogor

Leave a Comment