Leisure

Di Balik Istirahatlah Kata-Kata

Istirahatlah Kata-Kata adalah sebuah film yang diadaptasi dari kisah hidup Wiji Thukul. Film ini disutradarai oleh seorang sutradara muda bernama Yosep Anggi Noen. Sebelum diputar di tanah air, film yang pada awalnya diberi judul “Solo, Solitude” ini telah memboyong beberapa penghargaan pada festival film nasional sampai ke kancah internasional.

Pertanyaan kemudian, apa yang menarik dari film ini?

Kenapa harus Wiji Thukul?

Banyak orang melabeli Wiji Thukul sebagai seorang aktivis kiri korban kekejaman Orde Baru. Ya, Thukul merupakan penyair sekaligus aktivis yang hilang bersama 12 aktivis lainnya sejak kekisruhan yang terjadi pada saat rezim Soeharto (1998). Dengan latar belakang Thukul yang berasal dari kelas sosial rendah, ia menentang rezim otoriter yang pada saat itu membatasi hak-hak demokrasi. Ia bergerak bersama kaum buruh, petani, dan masyarakat miskin.

Melalui puisi-puisinya, Thukul melakukan perlawanan dan pemberontakan. Baginya, puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan orang-orang kecil.  Puisinya mengandung kata-kata gelap nan liar yang dianggap membahayakan eksistensi rezim Orba. Thukul meneror Soeharto dengan karya-karyanya yang banyak diterbitkan di berbagai media massa saat itu. Dan benar saja, karya-karya Thukul membawa pengaruh besar. Rakyat mulai tergerak untuk melakukan perlawanan. Bersama kaum pro-demokrasi, Thukul memprakarsai organisasi yang bergerak melawan represif Orba, yakni Jakker (Jaringan Kerja Kesenian Rakyat) dan PRD (Partai Rakyat Demokrasi). Para aktivis Jakker dan PRD serta jaringan pro-demokrasi lainnya melakukan aksi pemberontakan. Hal ini membuat Soeharto tidak tinggal diam. Intel Soeharto menyerang kantor PRD yang menyebabkan 5 orang tewas, 149 orang luka, dan 23 orang hilang. Sejak saat itu, kerusuhan sering terjadi. Aparat keamanan yang tergabung dalam Tim Mawar (tim penculikan aktivis) mengincar orang-orang yang dianggap sebagai dalang dari aksi pemberontakkan tersebut. Thukul masuk dalam daftar incaran. Ini yang kemudian menjadi penyebab Thukul bersama keduabelas aktivis lainnya tidak kunjung ditemukan jejaknya hingga kini.

Wiji Thukul dipaksa dihilangkan karena pandangan dan aksi politiknya. Begitu ironis. Thukul adalah bentuk representasi dari tindak kejahatan kemanusiaan yang dilakukan rezim Orde Baru. Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) dalam film ini menyimpan nostalgia masyarakat akan kegelapan masa lalu bangsa yang hingga kini tak kunjung menemukan titik terang.

Wiji Thukul juga Manusia Biasa

“Jadi buron lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi  kacang ijo

berseragam lengkap yang membubarkan demokrasi”

– Wiji Thukul

Tidak ada adegan yang mempertontonkan gesekan fisik yang terjadi antara aparat keamanan dan Thukul sepanjang film ini diputar. Anggi sebagai sutradara memilih momen pelarian Wiji Thukul ke Pontianak sebagai sudut pandang dalam film ini. Sehingga, pengisahan memposisikan Thukul kembali pada khitahnya sebagai manusia biasa. Seperti kutipan Thukul di atas, film ini lebih menonjolkan sisi kemanusiaan Thukul yang berstatus buronan sekaligus  kepala keluarga. Dibalik sifat keaktivisannya yang selalu berontak, Thukul juga dapat merasakan cemas, dilema, dan kesepian ketika meninggalkan keluarga.

Pergolakan batin dari seorang Wiji Thukul dibangun dengan monolog dan dialog-dialog yang minimalis. Banyak pula momen sunyi yang diwakilkan oleh  simbol-simbol sehingga memunculkan multitafsir penonton. Kendatipun, interpretasi penonton tetap dibatasi oleh skemata sejarah Thukul itu sendiri.

Kata-kata adalah Senjata

“puisiku bukan puisi

tapi kata-kata gelap

yang berkeringat dan berdesakan

mencari jalan

ia tak mati-mati

meski bola mataku diganti”

– Wiji Thukul

Kutipan di atas merupakan larik puisi Thukul yang berjudul “Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa” yang juga diucapkan tokoh Wiji Thukul dalam film.

Dalam membangun kekhusyukan cerita, Anggi menghadirkan puisi-puisi Thukul melalui monolog tokoh. Dibantu dengan penataan suara dan visualisasi yang pas, kekuatan kata-kata pada puisi Thukul sangat terasa. Hal ini mampu membuat penonton bergidik dan menjemput ingatannya kembali bahwa seorang Wiji Thukul dengan begitu kuat kata-katanya dapat meruntuhkan kepemimpinan Soeharto pada masanya.

Namun, jika dibandingkan dengan kondisi sekarang. Kata-kata sudah semakin hilang kekuatannya. Kata-kata bukan lagi senjata yang kuat untuk melawan ketidakadilan. Kemana perginya kata-kata?

“Istirahatlah kata-kata. Tidurlah kata-kata. Kita bangkit nanti”- Wiji Thukul.

Nanti berarti sekarang. Sekarang saatnya kita bangunkan kata-kata dari tidur panjangnya. Kata-kata adalah senjata!


Film ini bisa menjadi gugatan serius yang ditujukan kepada pemerintah. Masih ada hutang yang mesti dibayar pemerintah. Masih ada keadilan yang harus terus dituntut.

Maka hanya ada satu kata: lawan!

About the author

ojustinee

Sedang mengambil peminatan BIPA di bangku kuliah. Bercita-cita menjadi ibu guru gaul yang galak, punya body macem Gigi Hadid, dan suami serupa Andrew Garfield. Cheers!

Leave a Comment