Relationship

Dearest Mr. Anonymous

mr-anonymous-revoluside dearest mr. anonymous Dearest Mr. Anonymous mr anonymous revoluside

Aku menuliskan yang entah ini disebut apa. Bukan puisi, mungkin lebih kepada curahan hati. Atau bisa jadi, sebuah pengakuan. Teruntuk kamu yang tawanya tak bisa lagi ku dengar.

“Hai, apa kabar?”

Haha, klise sekali. Seharusnya tak se-kaku ini aku menyapamu. Tapi ku pikir, itu sebuah pertanyaan logis. Pertanyaan yang biasa dilontarkan seseorang kepada kawannya yang sudah lama tak berjumpa.

Hmm…

Tigaperempat tahun kiranya kita tak pernah lagi bertatap muka ― bermain sorot mata. Seperti senja pada waktu itu, entah aku tak tahu kapan bisa melihatnya lagi. Melihat sorotan mata yang lebih indah dari langit kala senja itu. Ah aku lupa, jangankan bertatap muka, bertegur sapa via suara pun tak pernah lagi.

Mengapa kita seolah tak pernah saling kenal sekarang? Bukankah kita pernah saling membahagiakan? Walau pada akhirnya semua usai, dan hanya menyisakan risau dan kenangan.

Ya, kenangan…

Aku ingat ketika untuk terakhir kalinya kau meninggalkan kecup di keningku. Dan mataku tak sanggup lagi menahan tangis yang menggenang. Kau tidak menghapus air mataku, kau lantas pergi memalingkan wajah ― enggan menatapku. Kau pergi tanpa mengucap selamat tinggal.

Lalu semua senyap

Membisu…

Terperangkap bisu yang beku

Membungkus kurun waktu

Hati kita pernah cukup lama berpaut. Memadu kasih, menciptakan kisah ― yang tiap detik kita habiskan bersama, berdua, aku dan kamu ― yang kini bertuan dalam diam. Mengapa? Sampai kapan kita betah menaruh bungkam?

Jujur, aku rindu

Teramat rindu

Bukan padamu.

Rinduku jatuh dalam jurang kenangan yang enggan disalahkan. Rinduku jatuh dalam kekeliruan sang takdir yang telah begitu sempurna menciptakan kenangan tentang kita. Cintaku masih setia. Setia pada kenangan yang kekal. Sebab tak ada suatu hal apapun yang mampu mengubah tiap segmen ceritanya ― abadi. Tak seperti manusia yang mudah terpedaya dan bisa kapan saja berubah, meninggalkan jati dirinya sendiri.

Aku masih jatuh cinta pada kenangan itu. Teramat jatuh cinta.

Melalui tulisan ini, aku tak bermaksud memutar kembali rekaman kisah masa silam tentang kita di dalam kepalamu. Atau membujukmu untuk menjalin kembali kisah cinta denganku, kemudian menciptakan lagi kisah-kisah bahagia lainnya berdua bersamaku. Bukan. Bukan atas dasar itu tulisanku ini dibuat.

Aku masih nyaman memintal kusutnya benang kenangan. Dan, sambil perlahan memungut reruntuhan-reruntuhan jati diri yang telah lama hilang. Aku pun mencoba mengerti, adalah suatu hal yang sangat sulit apabila kita kembali dipertemukan. Dalam mimpi sekalipun, aku tak bisa lagi merengkuh dirimu dalam lekuk lenganku. Kamu yang dulu adalah si pemilik kenangan yang aku rindukan. Namun semua telah berubah, dan takdir bukanlah hal yang patut disalahkan.

Aku pun sadar, kenangan diciptakan tuhan untuk dikenang, bukan untuk dilupakan. Kenangan diciptakan tuhan sebagai acuan revolusi manusia ― untuk memperbaiki diri. Begitulah sekiranya aku memandang kenangan, yang sedaritadi dibicarakan.

Melalui tulisan ini, yang harapku besar kau sudi membacanya. Aku ingin mengutarakan pesan sebagai seorang kawan.

“Lihatlah langit sebagai langit, lihatlah hitam sebagai hitam, lihatlah kebenaran sebagai kebenaran”.

Sebab bagaimanapun bibir berkata, nurani selalu membenarkan apa yang seharusnya dibenarkan.

Mengenai kerinduanku pada kenangan, biarlah ia ikut mengalir bersama ribuan tetes hujan.

Selamat menyelam dalam diam. Semoga kau sedang dalam keadaan baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja.

Doaku menyertaimu.

(Bandung, 2015)

 

About the author

ojustinee

Sedang mengambil peminatan BIPA di bangku kuliah. Bercita-cita menjadi ibu guru gaul yang galak, punya body macem Gigi Hadid, dan suami serupa Andrew Garfield. Cheers!

1 Comment

  • Ini pertama kalinya aku membuka blog ini, dan langsung tertarik pada Dearest mr. Anonymous. Mungkin sbagian org akan kecewa stelah mmbukanya, dan melihat oh ini hanya curhatan saja, lalu menutupnya. But i keep readin’ it until the end. I love ur idea to write this. Keep write. xoxo

Leave a Comment