Leisure

Album 24K Magic: Perempuan dan Hedonisme

Belakangan ini saya terbiasa mendengarkan musik lewat portal online. Hal ini membuat saya mudah mengetahui lagu apa saja yang sedang laku di pasaran. Jika kalian memiliki kebiasaan yang sama, kalian pasti tahu “Shape of You” milik Ed Sheeran yang sudah dua bulan ini masih bertahan menduduki peringkat teratas pada tangga lagu versi Billboard dan Joox. Namun, disamping kedigdayaan Shape of You, agaknya saya lebih menaruh perhatian justru kepada lagu-lagu milik Bruno Mars yakni 24K Magic, Versace on The Floor, dan That’s What I Like. Ketiganya merupakan lagu pada album terbarunya berjudul 24K Magic yang dirilis akhir Oktober silam. Tidak tanggung-tanggung, dengan waktu yang relatif singkat ketiganya langsung menembus 15 besar posisi teratas versi Joox dan 20 besar versi Billboard.

Apa yang kemudian membuat bung Mars dapat meraup tiga posisi teratas sekaligus? Pertanyaan tersebut membuat saya penasaran dan langsung memutarnya.

Mendengar single pamungkas di album ini, 24K Magic, terdapat kekonsistenan genre yang ia adopsi dari Uptown Funk, salah satu single nya yang telah memboyong banyak penghargaan sepanjang tahun 2015-2016 silam. Dengan konstruksi nada dan tema musik yang sama bahkan konsep klip video yang juga mirip, saya kira 24K Magic dapat juga disebut Uptown Funk jilid II. Funk-pop era 70-80an yang dibawakannya menciptakan kesan ‘asik’ ketika pertama kali mendengarkan lagu ini. Setidaknya bung Mars berhasil membuat saya mengangguk-anggukan kepala dan mengetuk-ngetukan kaki di lantai sama seperti pada saat pertama kali mendengarkan Uptown Funk.

Namun, ketika saya memutarnya berulang-ulang dan mencoba menyelami lirik di dalamnya, beberapa kali saya mengernyitkan dahi. Para penggemar bung Mars pun mungkin banyak yang melakukan hal serupa. Terkhusus jika kita mencoba jeli untuk memerhatikan liriknya.

Mari sepintas menjemput ingatan ke belakang. Betapa lagu-lagu bung Mars sebelumnya, seperti Marry You, Just The Way You Are, Ligthters, Grenade dalam album Doo-Wops & Hooligans (2010) serta Treasure, When I Was Your Man, It Will Rain, Locked out of Heaven dalam album Unorthodox Jukebox (2012) memiliki kesan makna yang begitu kuat dan dapat dengan mudah menyentuh perasaan setiap pendengarnya. Ini mengingatkan bahwa sejak awal kemunculannya, bung Mars lebih banyak berbicara tentang romantisme di dalam lirik lagunya.

Namun, romantisme demikian tidak lagi kental diungkapkan secara liris pada album 24K Magic. Dalam album ini, bung Mars cenderung memotret kondisi modern dengan segala hedonisme di dalamnya. Celakanya, ia menjadikan perempuan sebagai poros untuk menyampaikan sisi hedonisme tersebut. Perempuan seolah properti yang bisa kapan saja ditukar dengan kemewahan dan kekayaan milik si lelaki. Simbol-simbol demikian ia tumpahkan ke dalam lirik dengan porsi yang cukup banyak, bahkan hampir di tiap lagunya.

Saya kira, cara bung Mars menumpahkan liriknya pada album ini merupakan paradoksal atas album-album sebelumnya. Cara pandangnya memosisikan perempuan adalah bentuk paradoks yang saya maksudkan di sini. Pada lagu Grenade misalnya, “Oh, I would go through all this pain. Take a bullet straight through my brain. Yes, I would die for you, baby. But you won’t do the same.” Atau pada lagu It Will Rain, “Cause there’ll be no sunlight if I lose you baby. There’ll be no clear skies if I lose you, baby. Just like the clouds my eyes will do the same, if you walk away. Everyday it’ll rain.” Secara liris, makna kata ‘you’ dan ‘baby’ jelas merujuk pada seorang perempuan yang diperlakukan baik dan ditempatkan pada posisi yang agung. Dalam konteks ini konsep patriarki tidak berlaku dan justru dipatahkan.

Kemudian membanding lagu-lagu di album terbarunya, 24K Magic misal, “I’m a dangerous man with some money in my pocket. So many pretty girls around me and they waking up the rocket./ Players only, come on!/ Bad bitches and ya ugly ass friends” dari lirik tersebut kita jumpai perubahan makna yang tendensius. Makna kata ‘pretty girls‘ bukan lagi merujuk pada makna ‘cantik’ yang sebenarnya. Seperti kita jumpai juga kata ‘players only‘, dan ‘bad bitches‘. Kata-kata tersebut merupakan penanda atau simbol pendukung yang menjadikan kata ‘pretty’ memiliki konotasi yang negatif. Sangat jelas terlihat bahwa dalam lagu ini bung Mars memosisikan perempuan dalam tingkatan yang bahkan sangat rendah. Ini yang saya maksud paradoks tadi, yakni adanya cara pandang yang bertentangan akan suatu penilaian terhadap perempuan. Jika di album-album sebelumnya bung Mars terkesan mengagung-agungkan posisi perempuan, di album ini ia cenderung memberi nilai negatif pada perempuan. Kemudian dari pemilihan kata pun (‘bitches’ dan ‘ass’), bung Mars tak lagi menghiraukan kesantunan bahasa yang digunakan.

Konsep patriarki, materialistis, dan hedonis semakin jelas tergambar dari klip video lagu tersebut. Di mana bung Mars sendiri bersama Cameron Duddy yang menjadi sutradaranya. Berpakaian gaya 80-an dengan aksesoris emas yang disinyalir 24 karat  itu menghiasi sekujur tubuhnya, Mars dan kolega muncul dari pintu pesawat jet pribadinya yang mendarat di Las Vegas. Mengendarai mobil mewah, menghadiri pesta dengan sampanye berbotol emas di tangannya, menebarkan gepokan uang dolar. Sampai mendapat akses berkeliling dengan jetski di Bellagio Fountains. Dan masih banyak lagi penanda-penanda hedonisme lainnya.

Hal demikian juga dapat ditemukan pada lagu-lagu lain di album ini seperti Perm, Chunky, Finesse bahkan di lagu romantis sekalipun seperti Versace on The Floor dan Calling All My Lovelies bung Mars masih menyertakan lirik yang terkesan ‘nakal’ dengan mengambil sisi perempuan sebagai alat operasional pemaknaannya. Misal pada lagu Versace on The Floor, diksi ‘Versace’ yang sama-sama kita ketahui ialah sebuah brand fashion mewah asal Itali terkesan melabeli perempuan pada sifat materialistis. Bagi saya, hal tersebut merusak makna keromantisan yang berusaha diciptakan bung Mars.

Dilihat dari segi liris, tak dapat dipungkiri bahwa album 24K Magic sarat akan destruksi moral dan ketidakpantasan bahasa. Menyaksikan situasi ini, banyak para penggemar yang mempertanyakan kembali kefanatikannya pada Bruno Mars (terlihat dari komentar-komentar di Youtube). Sebab lagu-lagunya tidak lagi dapat mewakili perasaan banyak orang. 24K Magic memberi keterbatasan hanya pada lingkup kaum borjuis. Para penggemar di luar kaum borjuis hanya dapat menikmati segi musikalitasnya saja tanpa bisa melebur ke dalam pemaknaannya. Termasuk saya.

Tetapi, bung Mars tidak lantas begitu saja membiarkan kehilangan penggemarnya. Dengan cerdik ia mengemas stigma-stigma tersebut melalui konstruksi iringan musik yang dibangunnya, danceable dan ya, moodbooster-able! Ia pun berupaya mengobati segala luka hati dan kekecewaan penggemarnya melalui lagu penutup di album ini. To Good to Say Goodbye, satu-satunya lagu yang dapat dengan murni saya rasakan keromantisannya di album ini. Bung Mars sangat handal sekaligus picik dalam menciptakan perasaan dilematis penggemarnya. Namun, dilematis yang dirasakan saat ini bukan terletak pada efek melankolis yang timbul setelah mendengarkan lagu-lagunya, tetapi  “Bagaimana bisa saya masih tetap menyukai Bruno Mars dengan lirik lagunya yang demikian?” Is this what Mars called Magic?!

Ah, saya hanya sangat rindu menikmati lagu-lagu bung Mars tanpa perlu menyampingkan pikiran dan perasaan saya.

Kind of missing the cute Bruno…

About the author

ojustinee

Sedang mengambil peminatan BIPA di bangku kuliah. Bercita-cita menjadi ibu guru gaul yang galak, punya body macem Gigi Hadid, dan suami serupa Andrew Garfield. Cheers!

Leave a Comment