Knowledge

[4 Misteri Terhoror] Hilangnya Kapal dan Pesawat di Segitiga Bermuda

bermuda-revoluside [4 misteri terhoror] hilangnya kapal dan pesawat di segitiga bermuda [4 Misteri Terhoror] Hilangnya Kapal dan Pesawat di Segitiga Bermuda bermuda revoluside

Segi tiga bermuda. Siapa sih yang gak kenal dengan sebutan ini?

Segitiga bermuda merupakan salah satu misteri terbesar yang sampai saat ini belum terpecahkan. Beberapa orang mengatakan, tidak ada satu pun wilayah lain yang begitu menarik perhatian atas rangkaian peristiwa mencengangkan sebagaimana yang terjadi pada wilayah ini.

Catatan sejarah maritim menunjukkan bahwa dalam 25 tahun terakhir paling tidak sebanyak 75 pesawat dan ratusan kapal pesiar telah hilang. Meskipun saat ini penggunaan GPS dan alat komunikasi telah meluas dan modern, rangkaian hilangnya kapal dan pesawat tersebut masih menyisakan banyak pertanyaan.

Bagaimana tidak? Selain bangkai pesawat, kapal laut, serta tubuh korban yang tak kunjung ditemukan, kebanyakan dari insiden-insiden tersebut terjadi pada kondisi cuaca normal.

Mungkinkah demikian sederhana?

Segitiga Bermuda yang kadang disebut juga Segitiga Setan adalah sebuah wilayah lautan di Samudra Atlantik seluas 4 juta km persegi yang membentuk garis segitiga antara Bermuda (wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah utara), Puerto Riko (teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan), dan Miami (negara bagian Florida sebagai titik di sebelah barat).

[4 misteri terhoror] hilangnya kapal dan pesawat di segitiga bermuda [4 Misteri Terhoror] Hilangnya Kapal dan Pesawat di Segitiga Bermuda 582px the bermuda triangle

(Bermuda Triangle, wikipedia)

Peristiwa hilangnya kapal dan pesawat didaerah ini pertama kali didokumentasikan oleh E.V.W. Jones dari majalah Associated Press pada tahun 1951. Jones menulis artikel mengenai peristiwa kehilangan misterius yang menimpa kapal terbang dan laut di area tersebut dan menyebutnya ‘Segitiga Setan’. Selanjutnya, George X pada tahun 1964 melalui Vincent Geddis juga pernah mengungkit kembali ke-misterius-an segitiga bermuda ini lewat tulisan pendek yang Ia buat.

Hingga sekarang, sudah tidak terhitung lagi jumlah artikel yang ditulis untuk mempertanyakan kejanggalan yang terjadi di wilayah segitiga bermuda. Tak jarang, dalam artikel-artikel itu pun disebutkan beberapa peristiwa menyeramkan yang menarik untuk dibahas. Apa saja diantaranya? Simak kejadian-kejadian berikut!

Mary Celeste, 4 Desember 1872

Mary Celeste menjadi salah satu misteri terbesar lenyapnya beberapa kapal di segitiga bermuda. Mary Celeste sering digambarkan sebagai prototipe kapal angker sejak ditemukan terlantar tanpa penjelasan yang masuk akal. Namanya pun sering di pakai sebagai objek kapal hantu di beberapa film-film horor yang pernah dibuat.

[4 misteri terhoror] hilangnya kapal dan pesawat di segitiga bermuda [4 Misteri Terhoror] Hilangnya Kapal dan Pesawat di Segitiga Bermuda mary caleste

(Mary Caleste, bermuda-triangle.org)

Mary Celeste memiliki tinggi 31 meter, berat 282 ton, dan merupakan kapal bertiang dua. Dibuat di tempat pembuatan kapal Joshua Dewis yang terletak di sebuah desa di pulau spencer, nova scotia pada Tahun 1861.

Pada 5 November 1872, di bawah pimpinan Kapten Benjamin Briggs, Mary Celeste melaut membawa muatan 1.701 barel alkohol industri. Mary Celeste berangkat dari Staten Island, New York, menuju Genoa, Italia.

FYI, Kapten Briggs menghabiskan hampir seluruh hidupnya di laut, dia pernah memimpin sedikitnya lima kapal dan juga memiliki beberapa kapal. Kru dalam pelayaran ini terdiri dari seorang berkebangsaan Denmark dan empat orang jerman, namun semuanya memiliki catatan yang baik dan berpengalaman sebagai pelaut.

Mary Celeste memulai pelayaran tujuh hari lebih awal dari kapal Dei Gratia, yang kebetulan berasal dari pelabuhan dan tujuan yang sama. Lalu, apa hubunganya Mary Celeste dengan kapal Dei Gracia?

Dapat dikatakan, Dei Gracia merupakan salah satu tokoh penting dalam misteri ini. Tanpa adanya kapal Dei Gracia, maka misteri hilangnya kapal Mary Celeste tidak akan pernah terdokumentasikan.

Kembali lagi ke topik. Kapal Dei Gratia pada waktu itu dipimpin oleh Kapten David Reed Morehouse, yang juga seorang nakhoda handal. Dalam perjalanannya, Morehouse mulai merasa cemas ketika mendengar kabar bahwa Kapten Briggs bersama Mary Caleste belum juga berlabuh di Genoa, Italia.

Dalam pelayarannya, Dei Gracia juga menggunakan rute Samudra Atlantik (rute yang sama dengan Mary Caleste). Dan dalam pelayaran itu pula, Kapten Morehouse tidak menemukan hambatan cuaca yang berarti.

Barulah pada tanggal 4 Desember 1872 (beberapa laporan menyebutkan tanggal 5 Desember) sekitar pukul 1 siang, tiba-tiba juru mudi Dei Gratia melihat sebuah kapal melalui teropongnya, mengapung sejauh 5 mil dari posisi mereka saat itu.

Berdasarkan pada pengalaman sang juru mudi, dalam penglihatan teropongnya, dia merasakan ada keganjilan pada kapal tersebut. Setelah melapor pada kapten Morehouse, yang kemudian menginstruksikan untuk mendekat, mereka pun dikejutkan bahwa kapal tersebut adalah Mary Caleste.

Sang kapten langsung memerintahkan para kru-nya untuk memeriksa kapal tersebut hampir selama 2 jam. Oliver Deveau (salah satu kru Dei Gracia) melaporkan bahwa dia tidak menemukan seorangpun di dalam kapal, selain itu hampir seluruh ruangan terendam air.

“The only things missing were the ship’s paper, its chronometer and everyone on board,”Oliver Said.

Didalam kapal, ditemukan hanya ada satu pompa yang berfungsi, sedang yang dua lainnya tampaknya telah dibongkar. Air memenuhi dek setinggi 1,1 meter. Namun kapal tidak tenggelam bahkan masih dapat berlayar. Semua berkas yang ada di kapal menghilang kecuali buku harian kapten kapal. Jam kapal tidak berfungsi, kompas telah rusak, sedangkan sextant dan marine chronometer telah hilang.

Mary Celeste pun hanya berlayar mengapung perlahan dengan sendirinya mendekati terusan Gibraltar.

Ada apa dengan Mary Caleste? Apakah terjadi perampokan?

Kenyataannya tidak demikian. Persediaan makanan dan air bersih untuk enam bulan didalam Mary Celeste, serta benda-benda pribadi milik para kru (termasuk didalamnya tempat penyimpanan sejumlah uang) dibiarkan tidak tersentuh. Kargo kapal yang berisi minuman keras juga tetap pada tempatnya. Satu-satunya sekoci Mary Celeste pun masih menempel erat disamping kapal. Selain itu, tidak ada bekas dan bukti apapun yang menunjukkan bahwa sempat terjadi perkelahian.

Keadaan inilah yang mencoret kemungkinan adanya pembajakan kapal oleh perompak.

Akhirnya, setelah beberapa jam memeriksa, kapten Morehouse memerintahkan beberapa anak buah kapal untuk mengemudikan Mary Celeste. Selanjutnya kedua kapal tersebut mengakhiri perjalanan dan berlabuh di Genoa, Italia.

Tragedi tersebut akhirnya dicatat dalam kesimpulan yang sangat singkat: “Mary Caleste diterpa cuaca buruk dan para kru meninggalkan kapal dengan tergesa-gesa.”

USS CYCLOPS, 4 Maret 1918

The Greatest Mystery of The Sea, begitulah media menyebutnya.

Perjalanan Kapal USS Cyclops berakhir dengan tragis. Kala itu, 4 Maret 1918 atau tepat 97 tahun yang lalu, kapal milik Angkatan Laut Amerika Serikat itu hilang secara misterius bersama 308 penumpang dan awak di Segitiga Bermuda.

Dilansir dari laman wikipedia, USS Cyclops (AC-4) lenyap di laut berbadai. Namun sebelum berangkat, menara pengawas mengatakan bahwa lautan sangat tenang. Tidak mungkin terjadi badai, sehingga sangat baik untuk pelayaran.


[4 misteri terhoror] hilangnya kapal dan pesawat di segitiga bermuda [4 Misteri Terhoror] Hilangnya Kapal dan Pesawat di Segitiga Bermuda uss cyclops in hudson river 19111003

(USS Cyclops AC-4)

USS Cyclops merupakan kapal besar yang menampung batu bara sebagai bahan bakar untuk armada perang Amerika Serikat selama Perang Dunia I. Kapal sepanjang 159 meter dan berat 12 ribu ton itu mulai berlayar dari pangkalan laut Norfolk pada 8 Januari 1918 menuju Rio de Janeiro untuk mendapatkan batu bara.

Kapal baru tiba di Ibukota Brasil tersebut pada 28 Januari 1918.

Selama 2 pekan, kapten dan awak USS Cyclops akhirnya berhasil mengumpulkan 10 ribu ton bijih mangan sehingga muatan kapal hampir penuh. Barulah pada 18 Februari 1918, kapal kembali berlayar untuk pulang ke Baltimore, Maryland, Amerika Serikat dengan mengangkut 308 orang di dalamnya.

Namun kenyataannya tidak demikian. Kapten kapal Komandan Worley mengambil jalur lain, yakni menuju Barbados terlebih dahulu untuk mengambil lagi beberapa pasokan batu bara, hingga akhirnya baru pulang ke Baltimore.

Konsulat Jenderal AS untuk Rio de Janeiro, yakni Gottschalk yang juga ikut dalam rombongan kapal, memprotes Worley dengan mengatakan bahwa kapal tidak perlu mengambil batu bara tambahan. Namun sang kapten kapal keras kepala. Ia tetap melanjutkan perjalanan untuk menambah muatan kapal.

Akhirnya beberapa pekan selanjutnya pun dihabiskan di Barbados. Para awak kapal mengeruk banyak tambang kala itu.

Barulah pada tanggal 4 Maret 1918, USS Cyclops memulai perjalanan pulang yang sebenarnya ke Baltimore. Dengan kondisi cuaca yang normal, kapal diperkirakan akan tiba di tempat tujuan pada 13 Maret 1918.

“Seluruhnya dalam keadaan baik,” begitulah laporan terakhir yang di kabarkan Worley sesaat sebelum meninggalkan Barbados.

Dalam 2 hari berikutnya, Cyclops masih sempat terlihat oleh but patroli Inggris sebanyak 2 kali. Anehnya, 2 kali Cyclops ditemukan, 2 kali pula mereka berada pada arah yang salah menuju Baltimore. Kejadian tersebut membuat but patroli Inggris yang ada mengarahkannya kembali menuju ke arah yang benar.

Siapa sangka, tragedi but patroli diatas menjadi data terakhir yang bisa dilaporkan kala itu. Setelah itu Cyclops menghilang di dalam misteri laut.

Cyclops never made it to Baltimore. There was no distress call. No debris, wreckage or any evidence of the ship’s demise was ever found.” dikutip dari historicmysteries.com: The USS Cyclops Disappearance.

Setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tidak ada tanda-tanda puing atau sisa kapal yang mengambang. Keberadaannya hingga kini pun masih menjadi misteri.

Grumman Cougar, 31 Oktober 1991

[4 misteri terhoror] hilangnya kapal dan pesawat di segitiga bermuda [4 Misteri Terhoror] Hilangnya Kapal dan Pesawat di Segitiga Bermuda cougar

(Grumman Cougar, aviastar.org)

“The plane was never located,” – National Transportation Safety Board spokesman Terry Williams said.

Saat itu adalah perayaan Helloween 1991. Operator radar memeriksa dengan seksama apa yang baru saja terjadi. Tampilan layar tidak menampilkan apapun. Setiap tempat dalam tangkapan radar  tersebut tampak normal, dan lalu lintas rutin berjalan tanpa gangguan dijalur masing-masing.

Namun beberapa menit sebelumnya, radar menangkap sebuah jet Grumman Cougar. Pilot yang mengendarai adalah John Verdi. Ia dan co-pilot terlatih, Paul Lukaris, bergerak menuju Talahassee, Florida.

Sesaat kemudian, suara Verdi masuk melalui receiver di pusat penerbangan. Ia meminta untuk menambah ketinggian. Dan setelah permintaan tersebut disetujui, jet tersebut akhirnya mulai naik dari ketinggian 25.000 kaki menuju ketinggian 29.000 kaki.

Pada saat itu terjadi ledakan guntur pada lokasi yang dilalui Cougar, dan gambar satelit menunjukkan bahwa area tersebut memang berada dalam kondisi mendung.

Akan tetapi, kondisi tersebut tidak berpengaruh lagi bagi Verdi. Karena selang beberapa lama, mereka akhirnya berada pada ketinggian yang tidak dipengaruhi cuaca. Pada ketinggian tersebut, mereka hanya akan menerobos lapisan awan yang muncul di sela-sela cahaya matahari yang cerah. Awan yang demikian pasti merupakan sesuatu yang biasa untuk mereka hadapi, menyelinap putih disayap kiri dan kanan pesawat.

Mereka pun masih meninggi. Verdi belum melaporkan “roger” yang menunjukkan bahwa Ia belum mencapai ketinggian yang diizinkan. Radar pun terus memantau Cougar tersebut. Tiba-tiba, dengan alasan yang tak dapat diketahui, ketika menaik,pesawat jet tersebut menghilang begitu saja.

Verdi dan Lukaris tidak lagi memberikan jawaban atas panggilan yang ditujukan terhadap mereka. Selain itu, mereka juga tidak mengirimkan pesan SOS (kode morse internasional untuk tanda bahaya), yang menunjukkan apabila mereka mengalami masalah.

“They disappeared while ascending. There was no Mayday, and no emergency call.” Quasar said (invisionfree.com : Verdi, John Oct 31 1991)

Pada hari itu, radar menampilkan sesuatu yang tidak biasa. Ia tidak dapat menunjukkan keberadaan Grumman di seluruh area pantauan. Apakah pesawat tersebut meninggi, atau malah terjatuh ke laut?

Esoknya, pencarian Grumman Cougar mulai giat dilakukan. Namun setelah beberapa hari melakukan pencarian, tidak ada jejak yang dapat ditemukan dari teluk tersebut. Kecelakaan tersebut akhirnya dicatat dalam kesimpulan yang sangat umum dan singkat: “Pesawat Grumman Cougar mengalami kecelakaan karena terjadi kerusakan.”

FLIGHT 19, 5 Desemer 1945

Flight 19 merupakan satu kisah terkenal yang bertahan paling lama mengenai hilangnya pesawat-pesawat dan kapal-kapal secara misterius saat melintas di Segitiga Bermuda. Penerbangan itu dinamakan Flight 19 karena rencana awalnya terdapat 19 pesawat yang akan lepas landas dari Pangkalan Udara Angkatan Laut Lauderdale, Florida.

Di pangkalan inilah yang kala itu dijadikan markas para pilot dalam melakukan pelatihan navigasi tingkat mahir sebelum ditugaskan di perairan luas.

[4 misteri terhoror] hilangnya kapal dan pesawat di segitiga bermuda [4 Misteri Terhoror] Hilangnya Kapal dan Pesawat di Segitiga Bermuda flight 19

(Flight 19, wikipedia)

Pesawat-pesawat pada Flight 19 dibuat secara sistematis oleh orang-orang yang ahli penerbangan dan kelautan untuk mengahadapi situasi buruk. Bahkan pesawat-pesawat itu juga dirancang untuk dapat mengapung di lautan dalam waktu yang lama. Dengan bahan bakar yang juga diisi penuh, pesawat-pesawat ini memungkinkan skuadron tersebut menempuh jarak hingga 1.000 mil.

Letnan angkatan laut Charles Taylor, pemimpin penerbangan Flight 19, merupakan seorang veteran di perang Pasifik Selatan dan telah mengudara sejak 1941. Sedangkan 4 pilot lainnya merupakan orang-orang yang telah mengabdi di Pasukan Angkatan Laut. Mereka semua merupakan penerbang yang jam terbangnya telah lebih dari 350 jam.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, segala sesuatunya tampak baik. Penerbangan ini dapat dipastikan akan berlangsung seperti biasa.

Namun pada pukul 15.30, ketika Taylor bersama 4 pilot lain menjalankan jadwal latihan pemboman di Chicken and Hen Shoals, terjadi sesuatu secara tiba-tiba. Taylor melapor kepada para rekannya bahwa kompasnya meracau. Mendengar hal tersebut, seluruh pilot langsung berusaha menyamakan kompas mereka.

Namun tampaknya hal tersebut sia-sia dilakukan.

Dari lima kru yang mengudara dalam Flight 19, tidak ada satupun dari mereka memiliki arah kompas yang sama. Dua dari lima kru yakin bahwa mereka mengarah ke barat, namun tidak timbul kesepakatan setelah itu.

Terjadi drama percakapan yang menegangkan diantara kelima kru pada saat kompas mereka rusak, sehingga menyebabkan skuadron tersebut hilang arah dan akhirnya terpisah-pisah. Tidak hanya kompas yang meracau, komunikasi antar kru yang terekam oleh Letnan Robert Crox (instruktur penerbangan yang mengawasi Flight 19) juga terdengar terputus-putus sehingga sulit menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi yang jelas, kelima pesawat tersebut hilang arah diatas kawasan segitiga bermuda selama kurang lebih 3 jam. Barulah pada sekitar pukul 18:30, terdengar suara Taylor yang memerintahkan agar anak buahnya meninggalkan pesawat masing-masing karena telah kehabisan bahan bakar.

Sesaat setelahnya, beberapa radar darat berhasil menemukan lokasi Flight 19. Yakni mengapung di sekitar utara Bahama dan timur pantai Florida.

Malamnya, dimulailah misi pencarian dan penyelamatan yang dilakukan pesawat udara berisi 13 orang kru. Malang rupanya nasib pesawat penyelamat ini. Setelah beberapa menit lepas landas, komunikasi terputus. Pesawat penyelamat tidak lagi memberikan keterangan apapun dan menghilang secara misterius bersama para kru Flight 19.

Beberapa saat kemudian, ada laporan dari kapal tanker yang melintas, bahwa terdengar suara dentuman keras hanya 23 menit setelah pesawat penyelamat lepas landas.

Berita ini pun meledak pada esok harinya. Peristiwa menghilangnya 14 pria dari Flight 19 dan 13 kru dari tim penyelamat, menimbulkan usaha pencarian besar-besaran. Dengan melibatkan ratusan kapal dan pesawat terbang yang menjelajahi ribuan kilometer Samudra Pasifik, Teluk Meksiko, dan beberapa lokasi terpencil di Florida, tidak setitik pun jejak mayat atau pecahan pesawat yang ditemukan.

Kehilangan besar ini membuat pemerintah dan media tak lagi bisa menutupi kemisteriusan yang nyata dari segitiga bermuda.

Hingga hari ini, Flight 19 bersama regu penyelamatnya menyisakan pertanyaan yang mungkin, masih belum bisa terjawab dalam puluhan tahun yang akan datang..

***

Sekiranya itulah 4 kejadian paling horor mengenai peristiwa hilangnya kapal dan pesawat pada segitiga bermuda. Hingga saat ini belum ada penjelasan ilmiah yang bisa menjelaskan persis seperti apa penyebab hilangnya kapal dan pesawat tersebut.

Namun pada kenyataannya, segitiga bermuda tidaklah se-menyeram-kan seperti apa yang kita bayangkan. Segitiga bermuda adalah daerah pelayaran yang sibuk dimana setiap pesawat dan kapal yang melintas bebas berlalu lalang. Keindahan bawah laut di daerah Bermuda juga dijadikan tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh para turis.

Mungkinkah demikian sederhana? Atau mungkin, memang sesederhana itulah segitiga bermuda.

 –

—-Baca juga :

——Penjelasan Ilmiah Suara Terompet dari Langit

——-Questioning The Universe?

Sumber :

Gian J Quasar, Misteri Segitiga Bermuda, Cetakan 2013.

About the author

Rizky Zulkarnaen

Speaker, Writer, Engineer

Leave a Comment